Aktivitas di Sanggar tari binaan Dinas Pendidikan Kota Surabaya di Kecamatan Tenggilis Mejoyo
Mili.id - Sanggar tari binaan Dinas Pendidikan Kota Surabaya di Kecamatan Tenggilis Mejoyo, jadi favorit anak-anak kawasan Kendangsari, Rungkut dan Panjang Jiwo belajar tari tradisional.
Sanggar tersebut, telah berdiri tahun lalu. Dan menurut pengakuan salah satu orang tua siswa murid, Susi. Sanggar tersebut memiliki lebih dari 60 siswa, mulai usia dini hingga SMA. Jadwal latihan dilakukan tiap hari Sabtu di balai RW kawasan Mejoyo Tenggilis.
"Mereka ini dilatih oleh seorang guru tari dari Diknas. Ini kan memang program dari pemerintah kota Surabaya," ujarnya kepada wartawan, kemarin Selasa
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Desak Pemkot Surabaya Segera Evaluasi dan Sanksi Tegas Spa Bermasalah
"Namun tempatnya kurang layak. Selain bangunannya yang sudah tua, kerap tergenang air kalau hujan. Curah hujan masuk dari seluruh sisi bangunan. Karena bangunan balai yang juga digunakan untuk sekolah PAUD ini tidak berdinding," jelasnya.
Susi mengatakan, kondisi tersebut tidak mengendorkan semangat anak-anak untuk berlatih. Mereka selalu datang setiap Sabtu. Sekaligus tuturnya, sanggar tari ini cukup berprestasi. Sering ikut berbagai lomba dan pernah menjadi juara satu.
"Kalau hujan deras ya terpaksa tidak bisa latihan, karena tadi curah hujan masuk, kemudian menggenangi lantai. Jadinya berteduh saja. Karenanya kita berharap ada tempat yang lebih layak," terangnya.
Senada dengan wali murid, Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya Anas Karno meminta Dinas terkait menyediakan tempat yang lebih representatif.
Lebih lanjut Legislator Fraksi PDIP Surabaya itu, mengapresiasi program pemerintah kota Surabaya tersebut. Karena selain memberikan kegiatan positif, juga mengenalkan kesenian tradisional sejak usia dini.
"Ini kan salah satu upaya melestarikan budaya tradisional. Tapi butuh perhatian serius. Salah satunya menyediakan tempat latihan yang layak," jelasnya saat mendapat keluhan dari wali murid.
"Sayang kalau talenta-talenta anak-anak ini terhambat karena tempat mereka berlatih menari tidak representatif." sesalnya
"Apalagi mereka ini bersemangat untuk berlatih," demikian Anas Karno. (*)
Baca juga: SPMB 2026, DPRD Surabaya Tegaskan Tak Boleh Ada Anak Putus Sekolah
Editor : Redaksi
