Inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) bernama AIRMON (Air Monitoring System) — alat pendeteksi gas polutan berbahaya yang dirancang untuk kawasan industri dan permukiman padat.
Surabaya,mili.id – Di balik wajah muda dan semangatnya yang tenang, tersimpan kepedulian besar terhadap udara yang dihirup masyarakat. Dialah Eka Rachma Aprilidanti, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (TRIK), Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair). Dari tangan dan pikirannya lahir sebuah inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT) bernama AIRMON (Air Monitoring System) — alat pendeteksi gas polutan berbahaya yang dirancang untuk kawasan industri dan permukiman padat.
Berawal dari Keresahan
Ide itu tidak muncul begitu saja. Eka mengaku tergerak setelah membaca data Dinas Kesehatan Jawa Timur yang mencatat lebih dari 130 ribu kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) sepanjang tahun 2023. Sebagian besar terjadi di wilayah yang berdekatan dengan kawasan industri.
Baca juga: UEA Tinggalkan OPEC, Pakar UNAIR Soroti Ancaman Baru Stabilitas Energi Dunia
“Teknologi ini saya rancang bukan hanya untuk mendeteksi, tapi juga sebagai langkah mitigasi awal agar masyarakat lebih waspada terhadap bahaya polusi udara,” tutur Eka dengan nada penuh tekad, di Surabaya, Jumat(24/10/2025).
AIRMON mampu mendeteksi enam jenis gas toksik — karbon monoksida (CO), amonia (NH₃), nitrogen dioksida (NO₂), metana (CH₄), etanol (C₂H₅OH), dan hidrogen (H₂) — secara real-time. Data yang dikumpulkan alat ini kemudian dikirim ke platform digital dan dihubungkan dengan sistem early warning alarm. Ketika kadar gas berbahaya melampaui batas aman, peringatan otomatis dikirimkan kepada pengguna.
Teknologi Anak Bangsa yang Visioner
AIRMON bukan sekadar proyek tugas akhir atau kompetisi. Bagi Eka, ini adalah langkah kecil menuju sistem pemantauan udara nasional yang lebih terintegrasi. Dengan lebih dari 30 penghargaan nasional dan internasional, serta tiga hak cipta dan satu paten dalam proses, Eka percaya inovasinya bisa menjadi bagian dari solusi ekologis Indonesia.
Baca juga: Tabrakan Argo Bromo dan KRL Picu Trauma, Dosen Psikologi Unair Jelaskan Dampaknya
Ia berharap AIRMON bisa diimplementasikan di wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) — daerah dengan tingkat polusi tinggi yang belum sepenuhnya terpantau oleh stasiun ISPU. “Dukungan dari kementerian dan lembaga terkait sangat penting, terutama untuk legalitas, sertifikasi SNI, dan pengujian lapangan,” ujarnya penuh harap.
Langkah ke Panggung Nasional
Inovasi ini juga mengantarkan Eka menjadi finalis Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional (Pilmapres) 2025, yang akan digelar di Universitas Diponegoro pada 24–29 Oktober mendatang. Ia akan bersaing dengan para mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia — membawa nama UNAIR, Fakultas Vokasi, dan semangat inovasi yang berakar dari kepedulian sosial.
Baca juga: Kekerasan di Daycare Jadi Perhatian, Pakar UNAIR Dorong Ruang Aman Anak
Di tengah sorotan kompetisi nasional, Eka tetap berpijak pada visi yang sederhana namun kuat: membuat udara di sekitar kita lebih aman untuk dihirup.“Saya ingin teknologi ini bukan hanya berhenti di ruang laboratorium, tapi hadir di tengah masyarakat — membantu mereka bernapas lebih lega,” kata Eka menutup perbincangan.
Tentang AIRMON
AIRMON (Air Monitoring System) adalah alat berbasis IoT yang dirancang untuk mendeteksi gas-gas berbahaya di udara. Menggunakan sistem digital terintegrasi, AIRMON mampu memberikan peringatan dini terhadap ancaman polusi udara dan dapat dikembangkan menjadi jaringan pemantauan lingkungan berskala nasional.
Editor : Muhammad
