Pakar Unair: Serbuan Wisatawan Asing Bukan Penyelamat Rupiah, Melainkan Peluang Emas Pariwisata Indonesia

Pakar Unair: Serbuan Wisatawan Asing Bukan Penyelamat Rupiah, Melainkan Peluang Emas Pariwisata Indonesia © mili.id

Guru Besar Ekonomi Internasional Universitas Airlangga, Prof. Rossanto Dwi Handoyo

Mili.id – Ramainya perbincangan di media sosial terkait kedatangan wisatawan asing ke Indonesia yang disebut-sebut sebagai bentuk solidaritas untuk membantu menguatkan nilai tukar rupiah mendapat tanggapan dari pakar ekonomi Universitas Airlangga. Menurut Guru Besar Ekonomi Internasional Universitas Airlangga, Prof. Rossanto Dwi Handoyo, klaim tersebut lebih banyak dipengaruhi narasi media sosial dibanding realitas ekonomi.

Prof. Rossanto menegaskan bahwa kedatangan wisatawan mancanegara tidak secara langsung mampu mengerek nilai tukar rupiah. Penguatan mata uang nasional, kata dia, tetap bergantung pada kebijakan ekonomi yang terkoordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga: Waspada Lonjakan Kasus Flu Malaysia, Pakar Unair Soroti Potensi dan Langkah Antisipasi

"Motivasi utama mereka bukan karena ingin membantu Indonesia supaya mata uangnya menguat. Motivasinya adalah motivasi pariwisata," ujarnya, Jumat(19/6/2026).

Menurutnya, meningkatnya jumlah wisatawan asing lebih dipicu oleh faktor ekonomi dan momentum liburan. Pelemahan rupiah yang mencapai hampir 30 persen sejak Januari 2025 membuat daya beli mata uang asing terhadap rupiah meningkat signifikan. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai destinasi yang lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.

Selain itu, kemudahan mobilitas antarnegara ASEAN melalui kebijakan bebas visa, periode libur sekolah pada Mei hingga Juni, serta ketidakstabilan geopolitik di sejumlah kawasan seperti Eropa dan Timur Tengah turut mendorong wisatawan memilih destinasi wisata di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Meski demikian, Prof. Rossanto tidak menampik bahwa sektor pariwisata tetap memiliki kontribusi terhadap masuknya devisa negara. Namun, dampaknya terhadap penguatan rupiah dinilai relatif terbatas jika dibandingkan kebutuhan pasar valuta asing yang sangat besar.

Ia menjelaskan, jika satu juta wisatawan membelanjakan rata-rata 1.000 dolar AS selama berlibur di Indonesia, total devisa yang masuk hanya sekitar 1 miliar dolar AS. Nilai tersebut masih jauh dari cukup untuk memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.

Baca juga: Rift Valley Fever, Ancaman Penyakit Menular Hewan Ternak

Karena itu, ia menilai momentum meningkatnya kunjungan wisatawan asing seharusnya dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkuat promosi destinasi unggulan nasional seperti Mandalika, Labuan Bajo, dan Raja Ampat.

Prof. Rossanto mencontohkan keberhasilan Malaysia yang secara konsisten mengusung kampanye "Malaysia Truly Asia" hingga mampu menarik sekitar 44 juta wisatawan mancanegara. Menurutnya, strategi promosi yang berkelanjutan menjadi salah satu kunci yang dapat diadaptasi Indonesia untuk meningkatkan daya saing sektor pariwisata.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa penguatan rupiah lebih banyak ditentukan oleh kebijakan moneter dan fiskal. Bank Indonesia, misalnya, telah menaikkan suku bunga secara bertahap dari 4,75 persen menjadi 5,5 persen untuk menarik aliran modal asing (capital inflow).

Dengan tingkat bunga yang lebih tinggi, investor global memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia. Selain itu, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas kurs.

Pemerintah pun turut berperan melalui penerbitan surat utang berdenominasi dolar AS yang menambah pasokan valuta asing di pasar. Sementara itu, Danantara disebut ikut memberikan kontribusi melalui penerbitan obligasi yang permintaannya mencapai sekitar 5 miliar dolar AS. "Kombinasi kebijakan makroekonomi yang terkoordinasi itulah yang menjadi motor utama penguatan rupiah," jelasnya.

Dengan demikian, lonjakan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia lebih tepat dipandang sebagai peluang untuk menggerakkan sektor pariwisata dan meningkatkan penerimaan devisa, bukan sebagai faktor utama yang mampu menyelamatkan atau menguatkan rupiah secara signifikan.
 
 
 

Editor : Muhammad



Berita Terkait