Petugas Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Situbondo saat vaksinasi sapi. (Fatur Bari/Mili.id)
Situbondo - Sebanyak 34 ekor sapi terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD) ditemukan tersebar pada sejumlah desa pada 17 kecamatan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Puluhan ekor sapi yang terjangkit penyakit kulit dengan ciri-ciri muncul benjolan di kulit itu. Sedangkan untuk memutus mata rantai penularan penyakit LSD tersebut, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Pemkab Situbondo, mulai menggencarkan vaksinasi pada hewan ternak sapi.
Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Disnakkan Pemkab Situbondo, Sulistiyani menyampaikan, pada tahun 2023 lalu, pihaknya sudah melakukan vaksinasi LSD pada 6.600 ekor sapi yang ada di 66 desa.
"Vaksinasi LSD ini sudah kita lakukan pada hewan ternak sapi dan kerbau di 17, kecamatan di Kabupaten Situbondo," kata Sulistiyani, Jumat (26/1/2024).
Menurut dia, dalam satu hari, petugas mampu melakukan vaksinasi LSD sebanyak 100 ekor sapi. Selain itu, karena awal tahun 2024 ini, masih ada sapi yang terjangkit LSD.
"Untuk tahun 2024 ini kami telah mengajukan vaksin LSD sebanyak 10.000 dosis ke Kementerian Pertanian. Rencananya minggu depan kami ambil ke Surabaya," bebernya.
Perempuan berhijab yang akrab disapa Sulis mengaku, Kabupaten Situbondo harus berebut vaksin LSD dengan daerah lain.
"Jadi vaksin LSD ini berbeda dengan vaksin PMK ya. Kalau vaksin PMK itu selalu ready. Tetapi kalau vaksin LSD ini belum tentu ready," imbuhnya.
Menurutnya, penyakit LSD di Situbondo, awalnya ditemukan di Kecamatan Banyuputih pada pertengahan tahun 2023 ada satu, dua ekor sapi yang terpapar LSD itu sudah ditangani oleh petugas, namun yang namanya lalu lintas ternak setiap saat selalu ada.
"Idealnya kalau ada sapi yang terkena LSD itu harus dikarantina, namun sama masyarakat ada yang dijual ke pasar ternak," tuturnya.
Selain mempercepat vaksinasi, lanjut Sulis, Disnakkan Situbondo juga melakukan pengobatan kepada sapi yang terpapar LSD. Ia juga memastikan stok obat-obatan LSD aman.
"Obat LSD itu sudah ada di semua Puskeswan kalau petugas kami dapat laporan ada sapi yang sakit LSD pasti langsung didatangi dan diobati. Yang masuk ke kami itu ada 34 ekor sapi yang terpapar LSD. Setelah kami obati 23 ekor sudah sembuh dan sisanya masih dalam pengobatan. Untuk yang mati karena LSD tidak ada laporan ke kami," tegasnya.
Lebih jauh Sulis menjelaskan, penyebaran LSD melalui gigitan nyamuk, lalat penghisap darah, kutu sapi hingga serangga yang sebelumnya telah menggigit sapi yang sudah terpapar LSD.
"Apalagi sekarang memasuki musim penghujan, sehingga lumayan cepat penyebarannya. Oleh karena itu, kami menghimbau kepada peternak agar menjaga kebersihan kandang," pungkasnya.
Baca juga: Kapolres Situbondo dan Kasat Polairud Raih Penghargaan Africa Van Java Awards 2026
Editor : Achmad S
