Makam seorang ulama yang oleh banyak murid dan masyarakat dikenal sebagai wali Allah, KH Umar Al Faruq, di Desa Randupadangan, Menganti, Gresik
Oleh : KH Ahmad Mukhlis Nur (Cucu KH Umar Al Faruq)
Di sebuah sudut pemakaman umum Desa Randupadangan, Kecamatan Menganti, Gresik, terdapat sebuah makam yang nyaris tak berbeda dengan makam-makam lain di sekitarnya. Tidak ada cungkup megah. Tidak ada bangunan marmer yang menjulang. Tidak pula pagar besi yang membedakannya dari makam warga biasa.
Baca juga: KH Umar Al Faruq, Ulama yang Menaklukkan Ketakutan dan Menebar Kasih di Randupadangan
Namun, di situlah bersemayam seorang ulama yang oleh banyak murid dan masyarakat dikenal sebagai wali Allah, KH Umar Al Faruq.
Bagi sebagian orang, kemasyhuran sering kali diikuti dengan penghormatan yang tampak secara fisik. Makam dibangun megah, diberi penanda khusus, bahkan dijadikan kompleks tersendiri. Tetapi KH Umar Al Faruq memilih jalan yang berbeda.
Menjelang wafatnya pada tahun 1994, ulama kelahiran Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo, sekitar tahun 1904 itu meninggalkan sebuah wasiat sederhana namun sarat makna. Ia meminta agar dimakamkan di pemakaman umum Desa Randupadangan, bukan di kampung halamannya, bukan pula di makam keluarga.
Lebih dari itu, beliau berpesan agar makamnya tidak dibangun secara khusus.Wasiat tersebut sempat menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan keluarga dan para pengikutnya. Tidak sedikit yang merasa sosok seperti KH Umar Al Faruq layak dimakamkan di tempat yang lebih istimewa. Namun, pesan itu akhirnya dijalankan sebagaimana adanya.
Barangkali, justru di situlah letak keistimewaan beliau. Sepanjang hidupnya, KH Umar Al Faruq memang dikenal sebagai pribadi yang menjauhi popularitas. Banyak bagian dari perjalanan hidupnya yang sengaja beliau simpan rapat-rapat.
Beliau pernah menimba ilmu di sejumlah pesantren besar di Jawa. Nama-nama besar seperti Pesantren Bangkalan yang diasuh KH Syaichona Kholil, Pesantren Tebuireng Jombang, hingga Pesantren Langitan Tuban pernah menjadi tempat beliau belajar.
Dalam sejarah perjuangan bangsa, beliau juga disebut pernah terlibat dalam laskar Hizbullah pada masa perang kemerdekaan. Bahkan, beliau diketahui pernah menerima tunjangan veteran dan memiliki pistol peninggalan perjuangan. Namun, kisah-kisah itu nyaris tak pernah beliau ceritakan kepada orang lain.
Murid-muridnya lebih mengenal beliau sebagai sosok yang banyak diam daripada bercerita tentang dirinya sendiri.
Kerendahan hati itu juga tampak dalam cara beliau menyikapi nasab keluarga.Bertahun-tahun setelah wafatnya, baru terungkap bahwa KH Umar Al Faruq memiliki garis keturunan yang tersambung dengan Kesultanan Mataram dan Kesultanan Cirebon. Informasi tersebut muncul dari berbagai catatan keluarga dan penuturan sejumlah tokoh.
Tetapi selama hidupnya, beliau nyaris tidak pernah membicarakan hal itu. Sebaliknya, beliau justru berulang kali mengingatkan para muridnya dengan kalimat yang masih dikenang hingga sekarang."Sopo aku ora perlu, sopo turunanku yo ora perlu."
Siapa dirinya tidak penting. Siapa keturunannya juga tidak penting. Bagi beliau, yang menentukan kemuliaan seseorang bukanlah nama besar keluarga, melainkan amal dan pengabdiannya kepada Allah SWT.
Kesederhanaan itu tidak hanya hadir dalam ucapan, tetapi juga dalam keseharian. KH Umar Al Faruq dikenal gemar membantu masyarakat sekitar. Ia sering memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa banyak bicara.
Ketika ada yang bertanya mengapa beliau begitu senang bersedekah, jawabannya sederhana. Berbagi adalah kebutuhan hatinya sendiri.
Beliau juga kerap memberikan nasihat yang terdengar sederhana, tetapi mengandung makna mendalam. "Ora usah golek rezeki, rezeki sing bakal goleki awakmu."
Tidak perlu terlalu sibuk mengejar rezeki. Sebab rezeki akan datang menghampiri sesuai ketentuan Allah.
Pesan itu bukan ajakan untuk bermalas-malasan, melainkan pengingat agar manusia lebih sibuk memperbaiki diri, mendekat kepada Sang Pencipta, dan tidak diperbudak oleh urusan dunia.
Kini, puluhan tahun setelah wafatnya, makam sederhana di Randupadangan itu masih didatangi banyak orang. Mereka datang untuk berziarah, mendoakan, sekaligus mengenang keteladanan seorang ulama yang memilih menyembunyikan kemuliaannya.
Di zaman ketika banyak orang berlomba menampilkan identitas, keturunan, jabatan, dan pencapaian, KH Umar Al Faruq justru meninggalkan pelajaran yang berbeda: semakin tinggi seseorang di hadapan Allah, semakin kecil keinginannya untuk dikenal manusia.
Mungkin karena itulah, wasiat tentang makam yang biasa saja bukan sekadar pesan menjelang wafat. Ia adalah rangkuman dari seluruh perjalanan hidupnya.
Hidup dalam kesederhanaan, beramal tanpa pamrih, lalu berpulang tanpa ingin dikenang secara berlebihan. Namun justru karena itulah, namanya terus hidup di hati banyak orang.
Editor : Muhammad
