Geliat budaya Kota Mojokerto kembali memancar lewat Mojo Batik Festival 2025.
Mili.id – Di bawah gemerlap lampu Taman Bahari Mojopahit (TBM), Sabtu (22/11/2025) malam, geliat budaya Kota Mojokerto kembali memancar lewat Mojo Batik Festival 2025. Tak sekadar perayaan seni, festival ini menjadi ruang yang menegaskan kembali bahwa batik bukan hanya kain bergambar — melainkan jejak sejarah, simbol kejayaan Majapahit, dan identitas yang terus hidup melalui tangan generasi hari ini.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, hadir membuka acara dengan penuh kebanggaan. Di hadapan 30 pengrajin batik lokal yang memamerkan karya terbaik mereka, Ning Ita menyampaikan apresiasi mendalam. Baginya, batik Mojokerto memiliki kekuatan yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga budaya dan jati diri kota.
Baca juga: Tampil di Indonesia Fashion Week 2024, Bukti Eksistensi Batik Kota Mojokerto
“Batik adalah karya budaya yang mengandung identitas, filosofi kehidupan, hingga sejarah panjang Kota Mojokerto. Di balik setiap goresan canting, ada nilai yang menghubungkan kita dengan kejayaan Majapahit,” ujarnya.
Tema Canting Bahari Majapahit: Napas Majapahit yang Diperbarui
Tahun ini, Mojo Batik Festival mengusung tema “Canting Bahari Majapahit” — sebuah refleksi atas kekayaan budaya Majapahit, dipadukan dengan karakter bahari Kota Mojokerto yang dibelah oleh anak Sungai Brantas. Motif-motif yang dihadirkan tidak sekadar indah, namun bercerita tentang arus peradaban, perdagangan, dan kehidupan yang pernah berdenyut kuat di wilayah ini.
Festival ini menjadi panggung bagi generasi muda untuk mengenal lebih dalam warisan tersebut. Ning Ita menegaskan bahwa masa depan batik tidak hanya berada di tangan para maestro, melainkan juga anak-anak muda kreatif yang berani bereksplorasi.
“Generasi penerus harus mencipta, berinovasi, dan membawa batik Mojokerto mendunia,” kata Ning Ita, menegaskan optimismenya.
134 Motif dengan HAKI: Bukti Ketahanan Budaya yang Terjaga
Komitmen Pemerintah Kota Mojokerto terhadap pelestarian batik bukan sekadar retorika. Hingga tahun ini, sebanyak 134 motif batik khas Mojokerto telah resmi terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Puluhan di antaranya merupakan motif ikonik yang sudah melekat kuat, seperti Surya Majapahit hingga Merak Kasmaran.
Jumlah ini dipastikan bertambah setiap tahun seiring meningkatnya kreativitas para pengrajin. Langkah tersebut sejalan dengan misi Pancacita Kota Mojokerto, khususnya pada aspek Ketahanan Sosial dan Budaya, yang menekankan pentingnya masyarakat yang berbudaya, berkeadilan, dan berdaya.
Batik Sebagai Sumber Ekonomi, Bukan Sekadar Warisan
Ning Ita menegaskan bahwa Pemkot Mojokerto tidak hanya fokus melestarikan batik sebagai warisan budaya. Lebih dari itu, pemerintah ingin memastikan batik benar-benar menjadi sumber kemandirian ekonomi bagi para pengrajinnya.
“Batik harus mampu menghidupi para pengrajin, sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat. Kita ingin batik Mojokerto tidak hanya lestari, tetapi juga berdaya saing,” ucapnya.
Karena itu, penguatan sinergi dengan pelaku ekonomi kreatif dan generasi muda terus dilakukan. Festival ini menjadi salah satu ruang kolaborasi yang mendorong batik Mojokerto tampil tidak hanya sebagai produk lokal, tetapi juga komoditas budaya yang siap bersaing di pasar nasional hingga internasional.
Ajakan untuk Bangga Menggunakan Batik Mojokerto
Di akhir sambutan, Ning Ita mengajak seluruh masyarakat Mojokerto untuk turut terlibat dalam pelestarian dan pengembangan batik. Caranya sederhana: bangga menggunakan produk lokal.
“Gunakan batik Mojokerto, beli produk UMKM, dan banggalah menjadi bagian dari Kota Mojokerto yang maju dan berkarakter,” tutupnya.
Mojo Batik Festival 2025 pun tidak hanya menjadi pesta budaya, tetapi juga momentum memperkuat identitas. Di tengah arus globalisasi, batik Mojokerto berdiri tegak — sebagai simbol kreativitas, sejarah, dan masa depan ekonomi kreatif yang semakin cerah.
Editor : Redaksi
