Pelajar SD di Jombang saat membuat batik Shibori. (Apriyanto/Mili.id)
Jombang - Melalui membatik, para pelajar SDN 1 Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mewujudkan Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan menjunjung kearifan lokal.
Para pelajar SD ini, diajak untuk belajar membatik Shibori mulai dari proses menggambar pewarnaan, finishing sampai proses akhir. Batik Shibori merupakan salah satu batik yang digemari di dalam negeri.
Teknik pewarnaan batik ini berasal dari Jepang. Shibori berasal dari kata kerja 'shiboru' yakni merupakan teknik pewarnaan kain yang mengandalkan ikatan dan celupan. Motif yang dihasilkan seringkali tak jauh berbeda dengan batik, meskipun dari segi pengerjaan lebih mudah dan sederhana.
Kepala SDN 1 Kayangan, Kiki Ratnaning Arimbi, mengatakan, kearifan lokal yang diusung sebagai tema P5 tersebut, dimaksudkan agar peserta didik mengenal lebih dekat dengan karakteristik negara Indonesia yang kaya akan karya batik.
"Tujuannya untuk pembelajaran P5 agar anak mengenal warna, macam-macam batik yang bisa digunakan untuk enterpreneur day," ujar Kiki, Sabtu 3 Februari 2024.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa arus perubahan dunia pendidikan saat ini, sedianya harus disikapi dengan bijak oleh satuan pendidikan, dengan melakukan berbagai aksi nyata yang mampu menghasilkan karya terbarukan.
"Melalui karya inilah, sekolah dapat menjadikannya sebagai entitas anyar sekaligus meningkatkan daya eksistensinya di tengah masyarakat," katanya.
Ditanya mengapa memilih batik Shibori sebagai tema implementasi kegiatan P5, ia menyebut Shibori memiliki keistimewaan tersendiri berupa unsur warna dan motif yang tidak terduga dari proses pencelupan, karena proses pembuatannya sama dengan pewarnaan tie dye dengan teknik ikat dan celup.
Dan dalam penggunaanya, kain shibori bisa dipakai dalam berbagai kegiatan baik itu formal maupun informal dan dapat pula dikreasikan menjadi berbagai produk fashion. Oleh sebab itu pemilihan tersebut dimaksudkan untuk melatih motorik peserta didik agar mampu mengenal berbagai macam warna batik.
"Karena ini anak SD jadi kita buat batik yang sederhana yaitu batik Shibori yang tidak membutuhkan banyak bahan tapi warnanya cerah dan bisa di jangkau di kalangan masyarakat dan Sekolah yang ada di desa Seperti kami," tuturnya.
Tak hanya terpaku pada kain yang dibatik, peserta didik juga membuat barang-barang yang memiliki nilai jual nantinya.
"Hasilnya banyak sekali seperti tempat pensil, tas, bantalan kursi dan variasi yang lain sehingga di kegiatan market day nanti bisa dijual belikan," katanya.
Hasil dari market day itu, akan digunakan lagi untuk kegiatan P5, sehingga pengetahuan dan kreativitas peserta didik bisa meluas.
"Biaya P5 di SD kecil seperti kami ini sangat minim sekali, kadi hasilnya kita putar untuk kegiatan P5 lagi," ujar Kiki.
Baca juga: Manfaatkan Lahan Produktif, Kapolsek Kudu Tinjau Progres Pertumbuhan Tanaman Uwi Ungu
Editor : Achmad S
