Pengurus Organda Surabaya (Foto: Zain Ahmad/mili.id)
Surabaya, mili.id - Ketua DPC Organda Kota Surabaya, Sunhaji Ilahoh menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi transportasi umum di Kota Pahlawan.
Menurutnya, transportasi umum konvensional di Surabaya semakin terpinggirkan akibat menjamurnya angkutan berbasis aplikasi dan masuknya investor luar daerah, bahkan asing.
Baca juga: Rayakan Hari Anak Nasional 2026 Melalui Ruang Berkarya yang Setara di Dafam Pacific Caesar Surabaya
"Sejak maraknya angkutan online sekitar Tahun 2018, dampaknya sangat terasa. Dari 14 perusahaan taksi konvensional yang dulu beroperasi di Surabaya, kini hanya tersisa satu, yaitu Blue Bird," ungkapnya kepada mili.id, Kamis (4/7/2025).
Dia menyebut, kehadiran layanan seperti taksi dan ojek online telah memukul mundur moda transportasi reguler seperti mikrolet, lyn, dan taksi lokal.
Sunhaji menilai pemerintah kurang memberi ruang bagi pengusaha lokal untuk beradaptasi dan berkembang di tengah perubahan ekosistem transportasi.
Namun, ia mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang menghadirkan angkutan umum baru seperti Suroboyo Bus dan Wira-Wiri sebagai alternatif transportasi perkotaan. Meski begitu, Sunhaji menyayangkan pengelolaan Wira-Wiri yang justru jatuh ke tangan perusahaan dari luar daerah.
"Awalnya kan pemerintah sendiri yang mengadakan dan mengelola Wira-Wiri, tapi belakangan malah dikelola PT Sinergi Utaka dari Jakarta. Padahal banyak anggota kami yang siap ambil bagian. Seharusnya pengusaha lokal yang diutamakan," tegasnya.
Sunhaji pun menyoroti aturan ketat dalam penggunaan angkutan Wira-Wiri yang menurutnya tidak fleksibel dan tidak mendukung aktivitas warga secara maksimal.
"Wira-Wiri itu tidak memperbolehkan penumpang membawa barang dagangan. Ini jelas tidak bisa menggantikan peran mikrolet atau Lyn yang selama ini mengangkut orang dari pasar," jelasnya.
Baca juga: Eri Cahyadi Ancam Tutup Usaha Bandel Soal Pajak Dan Parkir
Ia juga menekankan perlunya evaluasi penempatan halte agar lebih tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan penumpang.
Di sisi lain, Organda juga mengkritisi rencana masuknya taksi listrik asal Vietnam ke Kota Pahlawan. Diketahui, izin operasional sudah mendapat rekomendasi dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya dengan jumlah unit yang akan beroperasi mencapai 300 kendaraan.
"Ini investasi asing, dan kami tidak dilibatkan sama sekali. Mestinya kami dipanggil, ditanya apakah ada pengusaha lokal yang sanggup ikut tender. Kenyataannya, tidak ada komunikasi maupun koordinasi," ungkap Sunhaji.
Ia menegaskan bahwa Organda bukan anti terhadap modernisasi transportasi, tetapi mendorong agar kebijakan tersebut tetap berpihak pada pelaku usaha lokal yang selama ini menopang transportasi kota.
Baca juga: Dengan Semangat Kemerdekaan RI, PLN Gencarkan Promo Tambah Daya 50 Persen di Darmo Free Day
Selain itu, Sunhaji juga menyoroti keberadaan kendaraan online dengan pelat luar daerah seperti W, S, dan AG yang beroperasi di Surabaya, tapi membayar pajak di luar kota.
"Ini merugikan daerah. Pemerintah harus tegas menertibkan," tegasnya.
Sunhaji menutup pernyataannya dengan menyerukan perlunya keterlibatan Organda dalam setiap pengambilan keputusan strategis di sektor transportasi.
"Kami hanya ingin diberi ruang yang adil. Jangan sampai transportasi di Surabaya ini sepenuhnya dikuasai oleh pihak luar," tandasnya.
Editor : Narendra Bakrie
