Kondisi Jalan KH Ahmad Kholil, Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi yang tergenang aliran air akibat sumbatan sampah. (Eko Purwanto/mili.id)
Banyuwangi - Saluran air yang membentang di pinggir Jalan KH Ahmad Kholil, Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi tersumbat. Dampaknya, pasokan air menuju saluran irigasi yang mengaliri ribuan hektare sawah tersendat.
Total ada sekitar 5000 hektare sawah yang dialiri saluran air tersebut tersebar di sejumlah desa dan kecamatan di wilayah Genteng dan Gambiran.
"Ada sekitar 5000 hektare sawah yang bergantung pada saluran air tersebut. Dan tersendat karena salurannya tersumbat sampah," ujar Koordinator Sumberdaya Air (Korsda) Genteng, Sarwadi, kepada mili.id, Jumat (27/9/2024).
Sarwadi kemudian menerjunkan tim beranggotakan jajaran Korsda dan petugas juru pintu untuk membersihkan saluran air yang mampet. Ada sekitar 10 sampai dengan 15 orang yang diterjunkan.
"Kami sudah menerjunkan tim setelah mendapatkan laporan dari warga," terangnya.
Sarwadi menambahkan, pasokan air di saluran tersebut minim saat kemarau. Sehingga, air dari saluran utama dibuka untuk mengaliri ribuan hektare sawah petani.
Karena minimnya debit air, pihaknya harus memberlakukan sistem gilir air. Dan kebetulan jadwal gilir pada hari Senin dialirkan melalui saluran irigasi yang berada di pinggir jalan KH Ahmad Kholil.
"Debit airnya tinggal dua kubik di saluran utama. Makanya kita berlakukan gilir," jelasnya.
Pihaknya meminta warga untuk tidak membuang sampah sembarangan. Salah satunya membuang sampah di sungai maupun saluran irigasi.
Agar tak terjadi banjir yang diakibatkan sampah yang menyumbat. Ditambah lagi, masih kata Sarwadi, ia mengimbau kepada warga untuk segera melapor jika menemui kejadian serupa.
"Kami minta warga segera melapor agar cepat tertangani dan tak sampai mengganggu pasokan air ke petani," imbaunya.
Pantauan di lokasi, sumbatan air diakibatkan tumpukan sampah yang menggenangi salah satu titik. Di titik ini, air meluber dan menggenangi badan jalan alternatif penghubung dua kecamatan tersebut.
Salah satu warga, Hj Sarah (70) mengatakan, dampak luberan juga ikut masuk ke dalam rumah. Air keruh bercampur material sampah rumah tangga.
"Sampahnya banyak dan masuk ke rumah-rumah sejak pagi tadi. Ada pampers (popok bayi), plastik-plastik, kaleng biskuit dan limbah rumah tangga yang ikut masuk ke dalam rumah warga sini. Paling banyak sampah stereoform," ujarnya.
Sepengatahuan dia, masih kata Sarah, material sampah berasal dari hulu sungai. Karena, saluran air dekat rumahnya kerap dibersihkan dan dilakukan kerja bakti.
Makanya, tak heran jika pintu air dibuka ataupun pas hujan lebat datang selalu peristiwa serupa bakal terjadi. Sarah mengeluhkan kejadian ini berulang-ulang.
"Setiap tahun pasti seperti ini. Padahal kerja bakti sudah digalakkan. Kok masih terus berulang hingga sekarang," pungkasnya.
Baca juga: Kolonel Inf Ginanjar Wahyutomo Sidak TPA Cipayung, Dorong Solusi Nyata Penanganan Sampah
Editor : Achmad S
