Jakarta

Prof. Masdalina Pane: Hantavirus Perlu Diwaspadai, Namun Risiko Pandemi di Indonesia Dinilai Kecil

Prof. Masdalina Pane: Hantavirus Perlu Diwaspadai, Namun Risiko Pandemi di Indonesia Dinilai Kecil © mili.id

Mili.id - Munculnya kasus Hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Namun, Profesor Riset Kepakaran Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masdalina Pane, menilai potensi Hantavirus menjadi pandemi di Indonesia masih tergolong rendah.

Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan karena gejala awal penyakit ini sering kali menyerupai infeksi biasa sehingga sulit dikenali sejak dini.

Baca juga: Waspada Hantavirus! Satu Kasus Terdeteksi di Jawa Timur, Dinkes Minta Warga Jaga Kebersihan

“Risikonya tentu ada, tetapi peluang untuk menjadi wabah besar relatif rendah. Namun kewaspadaan tetap penting karena gejala awal Hantavirus tidak spesifik,” ujar Masdalina dalam perbincangan bersama Eddy Wijaya di podcast EdShareOn, Rabu (20/5/2026).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, sepanjang 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus Hantavirus di Indonesia. Sebanyak 20 pasien dilaporkan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia.

Perhatian publik terhadap virus ini meningkat setelah adanya laporan penumpang kapal pesiar MV Hondius meninggal akibat Hantavirus strain Andes. Di Jakarta sendiri, hingga pertengahan Mei 2026, Dinas Kesehatan DKI masih memantau enam kasus suspek Hantavirus.

Gejala Awal Sulit Dibedakan

Masdalina menjelaskan, gejala awal Hantavirus umumnya mirip influenza, seperti demam, nyeri otot, nyeri sendi, hingga mual dan muntah. Pada tahap awal, gejala tersebut sering sulit dibedakan dari penyakit infeksi lainnya.

Menurutnya, kondisi berbahaya biasanya muncul saat pasien mengalami perburukan secara cepat dalam hitungan jam. Pada fase itu dapat terjadi kebocoran plasma hingga gagal ginjal akut.

“Perburukannya sangat cepat. Di situ dokter biasanya mulai curiga karena gagal ginjal bukan kondisi yang muncul mendadak,” katanya.

Ia menambahkan, varian Hantavirus yang ditemukan di Indonesia masih tergolong lebih ringan dibanding strain Andes di Amerika Selatan yang sudah dapat menular antarmanusia dan memiliki tingkat kematian lebih tinggi.

Di beberapa negara seperti Argentina, kasus Hantavirus tipe HPS atau HCPS yang menyerang jantung dan paru-paru tercatat sekitar 70 kasus setiap tahun. Sementara di China dan Korea Selatan, jumlah kasus mencapai ribuan per tahun.

Lansia dan Komorbid Lebih Rentan

Baca juga: Gejala Mirip Flu, Dinkes Surabaya Minta Warga Waspadai Hantavirus

Masdalina menyebut kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah lansia dan penderita penyakit penyerta atau komorbid. Sejumlah literatur medis menunjukkan strain HPS atau HCPS lebih sering memicu gangguan jantung fatal.

Meski demikian, ia meminta masyarakat tidak panik berlebihan karena karakter Hantavirus di Indonesia berbeda dengan varian mematikan yang ditemukan di Amerika Selatan.

“Yang penting tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Tikus Jadi Sumber Penularan
Hantavirus diketahui ditularkan melalui tikus, terutama tikus got (Rattus norvegicus) dan tikus rumah (Rattus rattus). Penularan dapat terjadi ketika manusia terpapar kotoran, urin, atau air liur tikus yang mengandung partikel virus.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menghindari kontak dengan area yang berpotensi terkontaminasi tikus.

Masdalina juga menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala setelah melakukan kontak dengan pelancong dari wilayah Amerika Selatan.

Baca juga: WHO Waspadai Penyebaran Hantavirus dari Hewan Pengerat

“Jangan menyepelekan karena fase perburukannya bisa sangat cepat,” katanya.

Indonesia Dinilai Perlu Laboratorium BSL-4
Dalam kesempatan itu, Masdalina juga menyoroti pentingnya penguatan fasilitas riset penyakit menular di Indonesia. Ia menilai Indonesia sudah perlu memiliki laboratorium Bio-Safety Level 4 (BSL-4), yaitu fasilitas dengan tingkat keamanan biologis tertinggi.

Saat ini Indonesia baru memiliki laboratorium hingga level BSL-3. Menurutnya, keberadaan BSL-4 penting untuk mendukung pengembangan vaksin dan obat ketika menghadapi ancaman penyakit menular baru.

“Bukan untuk merekayasa virus, tetapi agar kita lebih siap menghadapi ancaman wabah dan mempercepat penelitian vaksin maupun obat,” ujarnya.

Ia menyebut beberapa negara tetangga seperti Singapore dan Australia telah memiliki fasilitas laboratorium BSL-4.

Masdalina menegaskan, penguatan riset kesehatan dan sistem kewaspadaan dini sangat penting karena virus dan bakteri dapat terus beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan iklim.

Editor : Eka Ardimiyati



Berita Terkait