Mili.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level psikologis Rp17.750 per dolar AS dinilai bukan sekadar gejolak pasar keuangan, melainkan momentum penting bagi Indonesia untuk membenahi fondasi ekonomi nasional secara menyeluruh.
Dalam telaah ekonomi yang disampaikan Perdana Wahyu Santosa, pelemahan rupiah dipandang sebagai sinyal adanya tantangan struktural yang perlu segera direspons melalui penguatan industri domestik, peningkatan ketahanan ekonomi, serta kebijakan yang lebih adaptif terhadap tekanan global.
Baca juga: “Prabowo Puji PDIP Jadi Penyeimbang Pemerintah, Singgung Demokrasi di Tengah Gejolak Ekonomi”
Menurutnya, nilai tukar mata uang tidak hanya mencerminkan pergerakan angka di pasar, tetapi juga menunjukkan tingkat kepercayaan investor, daya tahan industri, hingga efektivitas arah kebijakan ekonomi suatu negara.
“Ketika rupiah menembus Rp17.750 per dolar AS pada 19 Mei 2026, publik tidak hanya melihat perubahan angka, tetapi juga membaca sinyal bahwa ekonomi Indonesia sedang menghadapi ujian besar,” tulisnya.
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi secara bertahap, dari kisaran Rp16.000 per dolar AS hingga menembus Rp17.000 pada awal April 2026 sebelum mencapai titik terlemah. Kondisi ini dinilai perlu dicermati serius karena mengindikasikan persoalan yang bersifat struktural, bukan hanya akibat gejolak sementara.
Baca juga: Update Harga Pangan Papua Barat: Minyak Goreng Curah Tertinggi Kenaikan
Sejumlah faktor global memang turut mempengaruhi kondisi tersebut, salah satunya meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kenaikan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel dan memperkuat mata uang dolar sebagai aset aman investasi.
Namun, menurut Perdana, faktor eksternal bukan satu-satunya penyebab. Ia menilai tekanan terhadap rupiah tampak lebih besar dibanding sejumlah negara kawasan seperti Korea Selatan dan Filipina, sehingga menunjukkan adanya tantangan domestik yang perlu dibenahi.
Baca juga: Rupiah Melemah, Dolar AS Sentuh Level Rp17.700
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia disebut terus melakukan berbagai langkah stabilisasi pasar keuangan, mulai dari intervensi pasar valuta asing, penerbitan SRBI, hingga pembelian surat berharga negara di pasar sekunder guna menjaga stabilitas dan kepercayaan investor.
Telaah ini menegaskan bahwa pelemahan rupiah dapat menjadi momentum evaluasi besar bagi pemerintah untuk memperkuat struktur ekonomi nasional agar lebih tangguh menghadapi ketidakpastian global di masa depan.
Editor : Redaksi
