Film ‘Pesta Babi’ Jadi Alarm: SPPB Serukan Persatuan Selamatkan Alam Papua

Film ‘Pesta Babi’ Jadi Alarm: SPPB Serukan Persatuan Selamatkan Alam Papua © mili.id

Film Dokumenter Pesta Babi.

Mili.id – Film dokumenter Pesta Babi memicu gelombang kekhawatiran bagi masyarakat adat di Tanah Papua. Koordinator Suara Perempuan Papua Bersatu (SPPB), Iche Murib, menegaskan bahwa kerusakan alam di Merauke yang digambarkan dalam film tersebut adalah cerminan masa depan suram bagi seluruh wilayah Papua jika tidak segera dihentikan.

Pernyataan ini disampaikan usai acara nonton bareng (nobar) di Asrama Putri Maro, Distrik Heram, Kota Jayapura, Minggu (10/5/2026). Iche memperingatkan bahwa setelah Merauke, wilayah lain di Tanah Papua akan menjadi target eksploitasi berikutnya.

Baca juga: Grand Launching Film 'Yang (Tak Pernah) Hilang' Sedot Animo Ratusan Penonton

"Merauke ini cerminan seluruh Tanah Papua. Masih ada waktu untuk kita bersatu melawan," ujar Iche Murib dengan nada tegas. Ia juga menyinggung kaitan antara eksploitasi lahan dengan kekerasan sistematis yang kerap memakan korban jiwa di wilayah konflik seperti Dogiyai dan Nduga.

Suara dari Akar Rumput: Teror dan Ekspansi Proyek
Kesaksian mengharukan datang dari Engel Were, seorang pemuda asal Kampung Kimaam, Merauke. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran personel militer yang masif di kampungnya menciptakan suasana teror bagi warga lokal.

Baca juga: Film Dokumenter Siswa SMPN 8 Kota Probolinggo Kalahkan 42 Negera di FFD 2023

"Kami selalu diteror dan tidak bisa hidup tenang. Saya minta kawan-kawan bersatu bantu kami di Merauke," pintanya di hadapan peserta nobar.

Kekhawatiran serupa juga menyebar hingga ke Papua Barat Daya dan wilayah utara. Dora Sidik dari Maybrat menyerukan agar tidak ada lagi sekat antara masyarakat pesisir dan pegunungan dalam menghadapi ancaman ini. Sementara itu, Mesak Erari mengungkapkan bahwa proyek yang merusak hutan mulai merambah Kabupaten Waropen namun luput dari sorotan publik.

"Di Waropen juga sudah ada (proyek merusak hutan), tapi belum diekspos. Saya harap ada yang melakukan investigasi dan mendokumentasikannya seperti film Pesta Babi ini," tutur Erari.

Melalui pemutaran film ini, SPPB berharap dapat membangun kesadaran kolektif untuk melindungi tanah adat dan hutan Papua yang kian tergerus oleh ekspansi proyek skala besar yang dinilai merugikan masyarakat asli Papua.

Editor : Redaksi



Berita Terkait