Grand lauching Film 'Yang (Tak Pernah) Hilang' (Foto: Ist)
Surabaya - 250 penonton yang terdiri dari berbagai entitas meramaikan grand launching film bertajuk 'Yang (Tak Pernah) Hilang'.
Grand launching ini digelar GMNI Untag Surabaya bersama Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), GMNI Unitomo Surabaya, ADREENA Media dan Gerakan Mahasiswa Surabaya (GMS).
Baca juga: Kejari Surabaya Tangkap Ibu-Anak Buron Korupsi Rp4,75 Miliar, Buron Empat Tahun
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Auditorium lantai 6 Gedung R. Ing Soekonjono Untag Surabaya pada Selasa (5/3/2024) ini dipandu Andre Abeng dari Komunitas #KawanHermanBimo.
Sebelum pemutaran film, grup musik Suar Marahabaya menyapa penonton dengan menyanyikan lagu-lagu seruan kritik sosial.
Yang (Tak Pernah) Hilang adalah sebuah film dokumenter yang secara substantif menceritakan tentang perjuangan, pengorbanan hingga penculikan dua aktivis mahasiswa asal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, yaitu Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugerah.
Film ini diharapkan menjadi pemantik khalayak, khususnya generasi muda agar mempunyai referensi historis tentang otoritarianisme orde baru.
Juga sebagai upaya advokasi agar pemerintah segera menyelesaikan seadil-adilnya kasus penghilangan paksa aktivis pro-demokrasi pada 1998 tersebut.
"Sebagai Kampus Merah Putih, Untag Surabaya sudah selayaknya melahirkan generasi penerus bangsa yang patriotik dan peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga dia berharap agar mahasiswanya terus menjadi pelopor agent of change dalam konteks penegakan HAM dan kemanusiaan," ujar Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho.
Baca juga: Gerak Cepat Pemkot Surabaya Sidak Gion Spa, Management Kooperatif
Produser film yang juga Koordinator IKOHI Jatim, Dandik Katjasungkana, menyampaikan bahwa film Yang (Tak Pernah) Hilang sudah digagas mulai Tahun 2019. Tapi karena kendala Pandemi Covid-19 serta kekurangan dana, proses awalnya mengalami stagnasi.
"Produksi film ini membutuhkan biaya besar, terutama untuk biaya perjalanan dan wawancara para narasumber di lima kota, yakni Surabaya, Malang, Jakarta, Jogjakarta dan yang paling jauh di Pangkal Pinang, Pulau Bangka, tempat lahir Herman," papar Dandik.
Persoalan makin bertambah dan membuat seluruh kru film mengalami kesedihan mendalam, ketika sang penggagas film, Hari Nugroho meninggal dunia pada Tahun 2020.
Di tengah berbagai kesulitan dan kebuntuan yang dihadapi, pada Tahun 2022, Dandik bertemu dengan Muni Moon dan Anton Subandrio yang berprofesi sebagai videomaker. Dari pertemuan itulah, produksi film tersebut mulai dijalankan lagi.
Baca juga: Cegah Jukir Tidak Resmi, Dishub Surabaya Tempel Foto Petugas di 819 Titik Parkir
"Dalam hal pembiayaan, sejak awal, kami mengupayakan kemandirian. Kami patungan, memproduksi kaos #KawanHermanBimo sebagai fundraising dan menerima sumbangan dari berbagai pihak yang peduli pada advokasi kasus penghilangan paksa aktivis pro-demokrasi 1998," sambung Dandik.
Film Yang (Tak Pernah) Hilang tidak hanya berkisah tentang kasus penculikan Herman dan Bima, namun juga merekonstruksi kisah hidup mereka sejak kecil di mata keluarga, orang tua, kerabat, kawan sekolah dan masa kuliah, kawan sesama aktivis, dosen, hingga aktivis partai politik.
Sementara Dosen Ilmu Komunikasi Untag Surabaya, Dia Puspitasari menyatakan, hilangnya Herman dan Bima adalah sebuah tragedi kemanusiaan. Sehingga film ini harus dilihat dalam konteks bagaimana seharusnya peradaban dibangun dengan sebuah tanggung jawab, kejujuran dan keterbukaan.
"Anak-anak generasi milenial dan generasi z bisa belajar tentang sejarah kemanusiaan dengan menonton film ini. Supaya mereka bisa menjadi bagian dari gerakan melawan impunitas dan mencegah terulangnya kejahatan terhadap kemanusiaan terjadi di negeri ini," pungkas Dia Puspitasari.
Editor : Narendra Bakrie
