Jawa Tengah

Libur Lebaran 2026, Wisata Jateng Naik tapi Tren Berubah ke Perkotaan

Libur Lebaran 2026, Wisata Jateng Naik tapi Tren Berubah ke Perkotaan © mili.id

Suasana tempat wisata Kota Lama Jateng

Mili.id - Kunjungan wisatawan ke Jawa Tengah selama libur Idul Fitri 2026 mengalami kenaikan hampir 10 persen. Namun, di balik peningkatan tersebut, terjadi pergeseran tren destinasi yang cukup mencolok.

Sejumlah objek wisata alam yang selama ini populer justru mengalami penurunan kunjungan. Beberapa di antaranya seperti Candi Borobudur, Owabong di Purbalingga, Baturraden, hingga kawasan Guci Tegal mencatat angka kunjungan yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga: Kepala Bakorwil Malang: Jogging Wisata Malang Bukti Komunitas Mampu Menjadi Penggerak Sport Tourism dan Pembangunan Kawasan

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, AR Hanung Triyono, menjelaskan bahwa penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan preferensi wisatawan serta faktor cuaca ekstrem selama musim libur.

Sebaliknya, destinasi perkotaan justru mengalami lonjakan pengunjung. Kawasan Kota Lama Semarang menjadi primadona dengan lebih dari 200 ribu kunjungan. Disusul Masjid Agung Demak dan Candi Prambanan yang juga mencatat angka kunjungan tinggi.

Menurut Hanung, wisatawan kini cenderung beralih dari wisata alam ke destinasi urban yang menawarkan pengalaman visual dan aktivitas yang lebih beragam. Selain itu, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat wisata luar ruang (outdoor) kurang diminati.

“Trennya bergeser, dari wisata alam ke wisata kota dan ikon. Ditambah faktor cuaca dan beberapa destinasi yang masih dalam pemulihan pascabencana,” jelasnya.

Baca juga: Jaga Rasa Aman Wisatawan Kayutangan, Polresta Malang Kota Kembali Amankan Jukir Nakal dan Viral

Secara keseluruhan, sembilan destinasi unggulan di Jawa Tengah mencatat total 599.634 kunjungan, meningkat sekitar 9,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Fenomena ini juga dirasakan langsung oleh wisatawan. Dika (29), asal Pacitan, mengaku lebih memilih berlibur ke Semarang dibandingkan wisata alam. Ia menghindari risiko cuaca saat berwisata outdoor dan memilih menikmati suasana kota.

“Kali ini pilih ke Kota Lama, sekalian kulineran sama teman-teman. Banyak kafe baru dan lebih nyaman buat jalan-jalan,” ujarnya.

Baca juga: Potensi Besar, Perhatian Kecil: Wisata Sumaragi Menunggu Kepedulian Pemda

Meski demikian, ia berharap ada perbaikan fasilitas, terutama pada jalur kendaraan dan penyeberangan pejalan kaki di kawasan wisata tersebut agar kenyamanan pengunjung semakin meningkat.

Pergeseran tren ini menjadi sinyal perubahan perilaku wisatawan, sekaligus tantangan bagi pengelola destinasi untuk terus beradaptasi dengan kebutuhan dan preferensi baru.

Editor : Redaksi



Berita Terkait