Santri Tunanetra “Mengaji di Tengah Lautan Ilmu”, 150 Peserta Ramaikan Festival Tunanetra Mengaji di Monkasel Surabaya

Santri Tunanetra, “Mengaji di Tengah Lautan Ilmu”, 150 Peserta Ramaikan Festival Tunanetra, Mengaji di Monkasel Surabaya

Santri Tunanetra “Mengaji di Tengah Lautan Ilmu”, 150 Peserta Ramaikan Festival Tunanetra Mengaji di Monkasel Surabaya © mili.id

Festival ini digagas oleh Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) Kawan Netra, lembaga pendampingan tunanetra di bawah Yayasan Urunan Kebaikan, dalam rangka memperingati Hari Tongkat Putih Sedunia (15 Oktober) dan Hari Santri Nasional (22 Oktober).

Surabaya, mili.id — Pemandangan tak biasa tersaji di kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya pada Sabtu petang(25/10/2025). Sekitar 150 santri tunanetra duduk bersila di ruang publik itu, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an Braille dengan penuh khidmat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Tunanetra Mengaji (FTM) 2025 yang mengusung tema “Mengarungi Lautan Ilmu Allah SWT.”

Festival ini digagas oleh Gerakan Tunanetra Mengaji (GTM) Kawan Netra, lembaga pendampingan tunanetra di bawah Yayasan Urunan Kebaikan, dalam rangka memperingati Hari Tongkat Putih Sedunia (15 Oktober) dan Hari Santri Nasional (22 Oktober). Menurut Pria Asmara Dewa, Ketua Pelaksana FTM 2025, kegiatan ini bertujuan untuk menyuarakan dakwah literasi Al-Qur’an Braille ke masyarakat luas. “Kami ingin masyarakat tahu bahwa banyak tunanetra muslim yang tengah berjuang agar bisa membaca Al-Qur’an Braille. Misi kami adalah mewujudkan Indonesia bebas buta huruf Qur’an Braille,” ujar Dewa.

Selain sesi mengaji bersama, para santri juga menggelar aksi flashmob dakwah, yakni mengaji Qur’an Braille secara serentak di sekitar Monkasel. Aksi ini menjadi simbol betapa ilmu Allah seluas lautan, sekaligus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan dakwah kaum disabilitas. “Siapa pun bisa ikut serta—baik menjadi relawan, donatur, atau wakif Qur’an Braille,” tambah Dewa.

Koordinator GTM, Heri Cahyono, yang juga tunanetra dan berprofesi sebagai pemijat, menegaskan pentingnya semangat belajar bagi santri penyandang disabilitas netra. “Surat cinta Allah tidak boleh redup hanya karena ketidakmampuan mata untuk melihat. Buta mata bukan berarti buta hati pada Tuhan,” ucapnya dengan nada haru.

Data dari Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) menunjukkan, hanya sekitar 5% tunanetra di Indonesia yang bisa membaca Al-Qur’an Braille. Rendahnya angka ini dipicu oleh minimnya guru, tingginya harga perangkat belajar Braille, serta keterbatasan akses transportasi dan pendampingan. Selama ini, sebagian besar tunanetra hanya mengandalkan versi audio untuk membaca Al-Qur’an. Jika dibiarkan, literasi Qur’an Braille dikhawatirkan akan musnah seiring berkurangnya generasi tunanetra yang mampu membacanya.

Pendiri Kawan Netra, Gusti Mohammad Hamdan, menegaskan bahwa perjuangan memberantas buta huruf Qur’an Braille adalah tanggung jawab bersama. “Ini bukan misi satu dua orang. Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam dakwah kebaikan ini,” ujarnya.

Selama ini, GTM dikenal aktif melakukan dakwah kreatif di berbagai ruang publik — dari Khataman on The Bus, Khataman on The Train, hingga Ngaji Quran Braille di Jalan Tunjungan. Semua itu menjadi cara unik mereka menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencintai Al-Qur’an.

Yayasan Urunan Kebaikan, yang berdiri sejak 2015, menaungi tiga unit utama: Homesantren Kebaikan, Kawan Netra, dan Yatim Design Academy. Dari ketiganya lahir beragam gerakan sosial seperti Gerakan Tunanetra Mengaji, Mushola Rescue, dan Ngaji Karakter. Dengan semangat “belajar tanpa henti”, Yayasan Urunan Kebaikan terus berupaya memperluas jangkauan dakwah sosialnya. “Bagi kami, istirahat yang sesungguhnya adalah kematian,” tegas Hamdan menutup pernyataan.

Editor : Erwin Muhammad



Berita Terkait