Wayang Babad Kartasura
Surabaya, mili.id-Di balik sorot lampu blencong yang temaram, bayangan tokoh-tokoh besar dari masa lalu menari di atas kelir putih. Namun kali ini bukan Arjuna, Bima, atau Semar yang muncul, melainkan Raja Amangkurat II, Untung Suropati, hingga Raden Mas Said. Inilah Wayang Babad Kartasura, sebuah inovasi seni pertunjukan yang tidak sekadar hiburan, melainkan juga pelajaran sejarah yang hidup.
Wayang unik ini lahir dari gagasan Dr. H. Djuyamto, S.H., M.H., seorang pengamat sejarah dan budaya yang gelisah melihat semakin renggangnya generasi muda dengan akar sejarah bangsanya. Ia kemudian mengajak seniman dan budayawan, seperti Ki Wahyu Dunung Raharjo, Ki Tulus Raharjo, dan Dr. Rudi Wiratama, untuk mewujudkan mimpi itu. Dari sinilah sebuah karya lahir: sebuah pentas wayang yang menuturkan kisah nyata sejarah Kartasura.
Baca juga: Jejak Dugaan Kasus Narkoba Mencuat, AKBP Catur Dicopot dari Jabatan Plh Kapolres Bima Kota
Alih-alih tokoh fiksi, lakon dalam Wayang Babad Kartasura menampilkan figur-figur nyata yang mewarnai sejarah abad ke-17 hingga 18. Penonton diajak menyaksikan kembali gegap gempita perlawanan Untung Suropati, pergolakan Geger Pecinan, hingga lahirnya perjanjian besar seperti Salatiga dan Giyanti. Semua dikisahkan dengan bahasa wayang yang indah, lengkap dengan gamelan dan narasi mendalam, seakan membuka jendela ke masa lalu.
Sejak pertama kali dipentaskan, Wayang Babad Kartasura telah hadir di berbagai tempat bersejarah: Pura Mangkunegaran Surakarta, Museum Wayang Fatahillah Jakarta, Masjid Sheikh Zayed Solo, hingga Petilasan Kraton Kartasura. Setiap pentas selalu meninggalkan kesan mendalam, bukan hanya bagi para pecinta budaya, tetapi juga generasi muda yang mungkin baru pertama kali mendengar kisah Kraton Kartasura secara hidup.
Baca juga: BPN Kota Bima Tegaskan Komitmen Reformasi Agraria di Peringatan Hantaru 2025
Lebih dari sekadar tontonan, Wayang Babad Kartasura menjadi tuntunan. Ia menjembatani sejarah yang sering hanya dibaca dalam buku-buku kaku agar bisa dipahami lewat seni pertunjukan yang atraktif. “Kami ingin generasi muda lebih mudah menangkap nilai sejarah, tanpa merasa digurui,” ujar salah satu senimannya.
Kehadirannya pun menjadi napas baru dalam gerakan pelestarian budaya. Di tengah arus globalisasi, ketika budaya asing mudah merasuk, Wayang Babad Kartasura menawarkan identitas sekaligus pengingat: bahwa bangsa ini punya kisah besar yang patut dikenang. Ia bukan hanya sebuah seni pertunjukan, tetapi juga monumen hidup dari perjalanan sejarah Kartasura yang penuh dinamika.
Baca juga: Dosen Unitomo dan Unipra Ajak Warga Desa Inovasikan Jambu Biji Jadi Es Krim Kekinian
Dengan terus dipentaskan, Wayang Babad Kartasura tidak hanya menjaga ingatan kolektif, tetapi juga membuktikan bahwa budaya tradisi bisa berinovasi tanpa kehilangan jati dirinya. Dan di balik bayang-bayang wayang itu, sejatinya ada pesan yang lebih dalam: sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin untuk menatap masa depan.
Editor : Erwin Muhammad
