Kursi estetik berbahan dari limbah kayu dek karya Adinda Nurfadillah, mahasiswa Interior Architecture Universitas Ciputra (UC) Surabaya (Foto: UC Surabaya)
Surabaya, mili.id - Mahasiswa Interior Architecture Universitas Ciputra (UC) Surabaya, Adinda Nurfadillah menyulap limbah lantai dek berbahan polimer menjadi satu set kursi living room yang estetik.
Karya ini dibuat Adinda Nurfadillah untuk menyelesaikan tugas akhirnya.
Baca juga: Eri Sikat Pungli SWK, Pengelolaan PKL Dikembalikan ke Pemkot
Adinda membuktikan bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan, di tengah keresahan terhadap limbah industri yang terus meningkat.
Tidak hanya estetik dan fungsional, karya ini memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan tinggi dengan pemanfaatan limbah yang tak terpakai, sehingga menarik perhatian dunia industri.
Adinda menyusun ulang material limbah dengan pendekatan ergonomis dan estetika kontemporer. Ia mengindentifikasi setiap material produksi dengan memanfaatkan potongan limbah yang tidak lolos sortir pabrik.
Dosen pembimbing tugas akhir, Dr. Sn. Tri Noviyanto P. Utomo yang akrab disapa Tommy menyatakan, Adinda tidak hanya menyelesaikan permasalahan desain, juga menawarkan gagasan yang lahir dari respons atas banyaknya persoalan lingkungan, khususnya dalam mengelola limbah padat industri.
"Saya salut bahwa Adinda tidak hanya menyelesaikan tugas akhir dengan baik, tapi juga responsif terhadap isu-isu lingkungan yang keberlanjutan melalui karya desain. Ini bentuk kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 12: konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab," papar Tommy, Kamis (10/7/2025).

Baca juga: Eri Cahyadi Dukung Pengusutan Korupsi KBS, Audit BUMD Diperketat
Karya ini bahkan membuat pihak industri Duma menyatakan ketertarikan atas hasil dari proses desain yang dilakukan Andinda. Bahkan mereka mengunjungi lokasi pameran di lantai 19 kampus Universitas Ciputra untuk melihat langsung hasil karya tersebut.
"Kami tentu senang, karena limbah kami bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai jual. Karya Adinda ini menunjukkan bahwa limbah sebenarnya bisa diminimalisir asal ada inovasi dan kemauan," ujar perwakilan dari pihak Duma.
Sementara berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memproduksi lebih dari 67 juta ton limbah per tahun.
Di antara angka tersebut, limbah non-organik industri seperti sisa lantai dek berbahan polimer menjadi salah satu jenis yang belum banyak terserap atau dikelola secara kreatif.
Baca juga: PDIP Surabaya Terima Banpol Lebih Rp6 Miliar, Fokus Pendidikan Politik
Melihat fakta tersebut, Adinda berinisiatif mengangkat limbah lantai dek yang tak terpakai menjadi bahan utama karya furniturnya.
Setelah melalui berbagai tahap eksplorasi, eksperimen, identifikasi material, hingga pengujian ergonomi dan kekuatan konstruksi, Adinda berhasil merancang kursi bergaya 'Jengk' kontemporer yang artistik.
Keberhasilan Adinda bukan hanya pencapaian pribadi, tapi juga refleksi dari pendekatan pendidikan Universitas Ciputra yang mendorong mahasiswa untuk menggabungkan creative thinking, entrepreneurial mindset, dan social responsibility dalam setiap karya.
Kolaborasi ini menjadi pintu masuk bagi kerjasama yang lebih luas, termasuk produksi massal produk berbasis daur ulang serta penciptaan ekosistem industri yang lebih bertanggung jawab.
Editor : Narendra Bakrie
