241 Ternak Terjangkit PMK di Mojokerto, Stok Vaksin Malah Kadaluwarsa

241 Ternak Terjangkit PMK di Mojokerto, Stok Vaksin Malah Kadaluwarsa © mili.id

Salah satu peternak di Dusun Gogor, Desa Madureso, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto. (nana/mili.id)

Mojokerto, mili.id - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi kembali merebak di Kabupaten Mojokerto. Tercatat ada 241 ekor sapi positif terjangkit per 29 Desember 2024. 

Total laporan tersebut terhitung sejak kasus PMK di Kabupaten Mojokerto dilaporkan adanya peningkatan sejak 2 Desember 2024. 

Baca juga: CKG Kota Mojokerto Capai 71,5 Persen, Pemkot Kejar Cakupan 100 Persen pada Oktober

Dari 241 kasus ternak terjangkit PMK tersebut, ada 13 ekor yang dinyatakan mati, dan 9 sapi ternak dipotong paksa. Dan tersisa 219 ternak yang masih positif PMK.

“Laporan terakhir ada 219 belum sembuh yang tersebar di 15 kecamatan. Kemungkinan masih ada yang belum dilaporkan, kami meminta petugas di lapangan untuk segera melaporkan,” kata Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Disperta Kabupaten Mojokerto Tutik Suryaningdyah, Kamis (2/1/2025).

Kasus PMK di Kabupaten Mojokerto ditemukan hampir seluruh wilayah Kecamatan. Hanya tiga wilayah Kecamatan yang tidak ada laporan kasus PMK yaitu Sooko, Ngoro dan Kemlagi. 

“Paling banyak di Pacet dengan 31 kasus dan Kutorejo 58 kasus,” beber Tutik.

Ia memaparkan, sumber penularan terbesar PMK ini terjadi karena virus dapat menyebar melalui udara dan benda-benda yang terkontaminasi.

Baca juga: BPBD Mojokerto Mulai Distribusi Air Bersih ke Tiga Desa Terdampak Kemarau, Layani 2.776 KK

Selain itu, faktor cuaca seperti curah hujan yang tinggi juga disebut memicu penyebaran virus PMK. Sehingga kasusnya meningkat lagi. 

“Kalau cuaca ekstrem hewan mudah stres dan daya tahan tubuh menurun. Secara otomatis kalau daya tahan tubuh menurun mudah terserang penyakit. Apalagi hujan terus menerus, karena matahari kurang, sehingga kuman lebih cepat menyebar,” imbuhnya.

Tutik menyatakan, Disperta sudah melakukan langkah-langkah antisipasi dan pencegahan agar penyakit PMK tak semakin merebak lagi. Juga turun untuk memberikan pengobatan ke sapi-sapi yang terjangkit. 

Namun, semua itu tergantung kepada imunitas tubuh hewan. Imunitas tubuh hewan ini tergantung dari higiene sanitasi yang dilakukan oleh para peternak. Serta asupan makanan yang diberikan kepada ternaknya.

Baca juga: Warga Kunjorowesi Bertahan dengan Mandi Sekali Sehari, Air Bersih Diprioritaskan untuk Memasak

“Kami sudah untuk memberikan terapi obat-obatan maupun penyemprotan disinfektan kepada ternak. Namun mungkin belum optimal untuk menekan, karena kembali lagi kepada masing-masing peternaknya dalam menjaga kebersihan kandang” jelasnya.

Vaksinasi sendiri telah digencarkan sejak tahun 2022 saat PMK mulai masuk Kabupaten Mojokerto. Tetapi, untuk saat ini belum bisa dilakukan karena stok vaksin yang disimpan Disperta Kabupaten Mojokerto telah kaduluwarsa. 

“Sebenarnya kota ada stok (vaksin), tapi kadaluwarsa. Sekarang kita masih menunggu alokasi dari Kementerian," pungkasnya.

Editor : Achmad S



Berita Terkait