Menteri PPPA Sebut Pelaku Rudapaksa dan Pembunuhan Siswi MI Banyuwangi Tak Manusiawi

Menteri PPPA Sebut Pelaku Rudapaksa dan Pembunuhan Siswi MI Banyuwangi Tak Manusiawi © mili.id

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi saat bertemu dengan ayah korban di rumah duka, Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru. (Eko Purwanto/mili.id).

Banyuwangi - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi mengecam pelaku dugaan pemerkosaan dan pembunuhan yang dialami CNA (7) siswi madrasah ibtidaiyah asal Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Arifa mengutuk perbuatan pelaku dan menyebutnya perbuatan diluar batas kewajaran. Hal itu diungkapkan Arifa saat mengunjungi rumah duka Jumat (15/11) siang. Arifa datang menyampaikan duka mendalam saat bertemu orang tua korban setibanya di rumah duka sekitar pukul 13.30 WIB.

"Perbuatan pelaku ini sudah diluar batas kemanusiaan. Sangat keji dan tidak manusiawi," ujarnya.

Arifa tak kuasa membendung air mata ketika bertemu dengan Doni Nur Chusairi (35), ayah korban. Dan meminta keluarga untuk bersabar dan berharap kasus ini segera terungkap.

"Kami meminta kepada bapak Kapolresta mohon ini segera diselesaikan dengan secepat-cepatnya dan keadilan harus ditegakkan dimanapun berada," ungkapnya.

Disinggung komunikasi apa antara dirinya dengan ayah korban, Arifa tak kuasa menahan kesedihannya dan menjawab pertanyaan awak media dengan terbata-bata. Dan merasakan rasa kehilangan sama seperti yang dialami orang tua korban.

"Semoga pelaku bisa segera tertangkap," ujarnya.

Arifa menegaskan tugas perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab kementerian yang dipimpinnya melainkan juga semua pihak. Termasuk orang tua, guru, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam melindungi anak.

"Semua punya tanggung jawab yang sama menjadi pelindung bagi anak. Jadi tidak bisa itu dibebankan kepada Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak. Karena kementerian juga perlu dukungan dan kerjasama dari semua pihak," terangnya.

Arifa meminta kepada masyarakat untuk mulai berempati peduli terhadap sekitar. Jangan sampai masyarakat acuh akan kondisi sekitar.

"Kalau kita pakai istilah anakku adalah anakmu, anak kita. Jadi anak-anak yang ada disekitar kita itulah anak kita. Kalau itu sudah terjadi anak-anak berada dimanapun mereka berada akan terjaga," ujarnya.

Arifa menyebut, pihaknya telah menerjunkan tim untuk pendampingan psikologis terhadap orang tua korban. Dan memonitor terus perkembangan kasus melalui tim yang sudah dibentuk sebelumnya.

"Maka dari itu kita minta bapak Kapolresta untuk segera mengungkap kasus ini secepatnya," tambahnya.

Pemkab Banyuwangi sendiri telah memberikan memberikan pendampingan langsung pada keluarga korban. Pendampingan terutama diperuntukkan pada ibunda korban yang diketahui saat ini tengah hamil tua. 

"Sejak kemarin, usai mendapat informasi kejadian memilukan ini, kami langsung terjunkan tim untuk melakukan pendampingan. Utamanya pendampingan psikologis pada ibunda korban, yang saat ini tengah hamil tua," ujar Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan KB, Henik Setyorini.

Henik menambahkan, Satgas PPA dan Tim pendamping P2TP2A, sejak 13 November telah melakukan pendampingan visum dan otopsi di RSUD Genteng. Terkait biaya visum dan autopsi yang telah dilakukan ditanggung oleh Pemkab Banyuwangi.

Tim juga telah mendatangi rumah duka untuk cek lokasi kejadian dan makam korban, serta melihat kondisi orang tua korban bersama Kepala Kemenag Banyuwangi yang merupakan anggota dari Tim SATGAS PPA Banyuwangi.

"Tim P2TP2A juga akan terus mengawal kasus ini secara hukum hingga putusan pengadilan," tandasnya.

Baca juga: Menteri PPPA Minta Maaf Usai Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah KRL

Editor : Achmad S



Berita Terkait