Gunung Merapi (iStock: GanI Pradana Ongko Prastowo)
Mili.id - Tepat pada 26 Oktober 2010 atau 14 tahun yang lalu adalah hari yang begitu kelam bagi masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi, bahkan erupsi gunung tersebut dinilai lebih besar dari letusan yang pernah terjadi di tahun 1872.
Pada tahun 1872, jumlah material vulkanik yang terlontar mencapai 100 juta meter kubik, namun pada 26 Oktober hingga 9 November 2010 jumlah lontaran mencapai 140 juta meter kubik.
Baca juga: Gunung Marapi Erupsi, Abu Vulkanik Capai 1,6 Kilometer
Letusan Gunung Merapi tahun 2010 ini mencatatkan rekornya dengan meluncurkan awan sejauh 15 kilometer dari Puncak Merapi menuju Cangkringan yang berjarak 15 kilometer dari Puncak Merapi.
Sejumlah wilayah di Magelang mengalami hujan abu vulkanik, dampak dari letusan gunung berapi tersebut. Bahkan abu vulkanik ini juga dilaporkan menghujani beberapa daerah lain diluar Magelang.
Sebanyak 386 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk salah satunya ialah Mbah Maridjan, sang juru kunci Gunung Merapi. Sementara ada 40.000 warga sekitar gunung ini diungsikan di sejumlah daerah di Kabupaten Sleman, DIY.
Kronologi Letusan Merapi 2010
Letusan Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 terjadi sebanyak tiga kali, yakni pada pukul 18.10, pukul 18.15, dan pukul 18.25 WIB.
Adapun letusan besar ini, masih berlanjut pada 3 November 2010 dan 5 November 2010.
Sehari sebelum meletus, status Merapi naik dari siaga menjadi awas pada 25 Oktober 2010.
Peningkatan status didasarkan kenaikan tajam data visual dan instrumental selama empat hari.
Sebelum 21 Oktober 2010, saat status dinaikkan dari waspada menjadi siaga, jumlah guguran material tercatat di bawah 100 kali per hari.
Namun, sejak 23 Oktober, guguran mencapai di atas 180 kali per hari.
Baca juga: Innside By Melia Yogyakarta Berkunjung ke Mili.id
Deformasi puncak hingga 21 Oktober yang hanya 10,5 sentimeter per hari, juga meningkat mencapai 42 sentimeter per hari.
Kondisi itu menandakan bahwa magma dari perut gunung sudah semakin mendekati puncak.
Gunung Merapi saat itu juga disebut berpotensi eksplosif atau mudah meledak dengan pola letusan menyemburkan material ke berbagai arah.
Oleh karena peningkatan status ini, warga yang tinggal di kawasan rawan bencana III (radius 10 km) sekeliling Merapi pun diungsikan.
Warga tersebut berasal dari 12 desa yang tersebar di Sleman (7 desa), Magelang (2 desa), dan Klaten (3 desa).
Evakuasi juga dilakukan di sisi selatan dan barat daya Merapi yang menjadi sisi deformasi dan guguran material lava.
Baca juga: Gunung Marapi Erupsi, Pendaki Tewas Jadi 23 Orang
Mbah Maridjan Tewas Diterjang Awan Panas
Ki Surakso Hargo atau Mbah Maridjan, yang lahir lahir pada 5 Februari 1927 di Desa Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, merupakan sang juru kunci Gunung Merapi.
Mbah Maridjan tewas pada 26 Oktober 2010 di usia 83 tahun akibat awan panas 600 derajat celcius menerjang tempat tinggalnya di Desa Kinahrejo.
Ia ditemukan tewas di dapur rumahnya oleh Tim SAR dalam posisi sujud.
Mbah Maridjan kala itu menolak untuk dievakuasi, alasannya, ia ingin menepati janjinya kepada Sultan HB IX untuk terus menjaga Merapi sampai akhir hayat, saat keluarganya mengungsi.
Selepas Mbah Maridjan meninggal, Pemerintah Keraton Jogjakarta menunjuk Mbah Asih sebagai juru kunci Gunung Merapi pad 4 April 2011. Mbah Asih merupakan anak dari Mbah Maridjan.
Editor : Aris S
