Ilustrasi
Mili.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan, Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi curah hujan tinggi, dan ini berpotensi terjadi beberapa wilayah di Indonesia, terutama kawasan timur hingga awal September 2024 .
BMKG menyampaikan hal tersebut dalam Prospek Cuaca Seminggu ke Depan Periode 30 Agustus – 5 September 2024.
Baca juga: Kebakaran di Hotel Jamaah Haji Indonesia di Makkah, PPIH Pastikan Semua Jamaah Selamat
“Saat ini, beberapa wilayah di Indonesia khususnya di wilayah Indonesia bagian Timur seperti Maluku, Maluku Utara, dan sebagian besar Papua masih memiliki potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” tulisnya, seperti dilansir dari laman resmi BMKG.
Menurut BMKG, potensi hujan dipengaruhi oleh aktivitas fenomena cuaca global, berupa aktifnya Gelombang Kelvin, Rossby Ekuatorial, dan MJO.
Selain itu juga karena adanya daerah pertemuan dan perlambatan angin, kelembapan udara yang tinggi, serta labilitas atmosfer yang menciptakan kondisi udara labil dan berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan.
Berdasarkan analisis dan pantauan BMKG dalam sepekan terakhir, curah hujan di beberapa wilayah Indonesia bagian utara masih cukup tinggi.
Hujan dengan intensitas sangat lebat (100-150 mm/hari) tercatat terjadi di Stasiun Meteorologi Minangkabau (148 mm/hari), 19 Agustus dan di Stasiun Meteorologi Pattimura (154 mm/hari), 22 Agustus.
Kemudian di Stasiun Meteorologi Domine Eduard Osok (151 mm/hari), 26 Agustus; dan Stasiun Mozez Kilangin (104 mm/hari), 28 Agustus.
Lebih lanjut, BMKG menyebut dalam skala global, nilai IOD, SOI, dan Nino 3.4 tidak signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia.
Yang berpengaruh pada peningkatan awan hujan (konvektif) ini adalah, pertama, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO).
Baca juga: Timnas Indonesia Tantang Mozambik, Garuda Bidik Tren Positif di FIFA Matchday 2026
MJO terprediksi aktif di wilayah Indian Ocean (fase 3) menuju Maritime Continent/Wilayah Indonesia (fase 4) pada periode 30 Agustus – 5 September 2024).
Kedua, aktivitas gelombang ekuator Kelvin, yang terprediksi aktif di wilayah di Laut Natuna, Selat Karimata, Kalimantan Barat, Lampung bagian selatan, Jawa bagian barat hingga tengah, Laut Jawa, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi bagian selatan.
Ketiga, gelombang atmosfer Rossby, yang diprediksi aktif di wilayah Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Selat Karimata, Laut Jawa, dan Samudra Pasifik timur laut Papua.
Keempat, sirkulasi siklonik terpantau di perairan utara Papua Barat yang membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di perairan utara Papua Barat.
Daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) lainnya memanjang di Sumatra Barat, di Lampung, di perairan barat Bengkulu, di perairan selatan Jawa Timur, di Laut Flores, di Laut Jawa, di Laut Sulawesi, dari Laut Maluku hingga Sulawesi Utara, di Laut Seram, dan di Papua Selatan.
Baca juga: Jonatan Christie Tembus Final Indonesia Open 2026, Asa Gelar Tuan Rumah Kembali Menyala
Daerah pertemuan angin (konfluensi) juga terpantau di perairan utara Papua Barat.
Kelima, Labilitas Lokal Kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal.
Ini terdapat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, sebagian besar Kalimantan, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.
Kemudian juga Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua, Papua pegunungan, serta Papua Tengah.
BMKG kemudian menyampaikan peringatan dini di mana secara umum kombinasi fenomena-fenomena cuaca tersebut diprakirakan menimbulkan potensi cuaca signifikan dalam periode 30 Agustus – 5 September 2024
Editor : Aris S
