Open Talks Kampus Inklusi bersama Valerie, salah satu mahasiswa UKWMS dengan disabilitas tuna daksa. (UWK for mili.id)
Surabaya - Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), melaunching Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang didukung oleh 19 yang relawan kampus yang terdiri dari mahasiswa, tenaga kependidikan, dan dosen.
“UKWMS sebagai karya Gereja Keuskupan Surabaya telah menerima hibah dari pemerintah Republik Indonesia, sebagai wujud fasilitas serta bantuan untuk pendirian Unit Layanan Disabilitas. Unit Layanan ini menjadi penting menjalankan inklusivitas pendidikan," ujar Rektor UKWMS Kuncoro Foe, Senin (22/7/2024).
Baca juga: PKS Semprot OPD Surabaya, Respons Lambat Dinilai Hambat Pelayanan Publik
Menurutnya manusia sebagai ciptaan tuhan diberi amanat untuk memelihara bumi dan memperhatikan seluruh ciptaanNya yang lain. Khususnya, para generasi muda yang akan mengenyam dunia pendidikan tetapi mengalami kendala kesempurnaan anggota tubuh.
"Oleh sebab itu, melalui Unit Layanan ini menunjukkan dukungan luar biasa untuk pembelajaran bagi setiap manusia. Sehingga peresmian ini, diperkenalkan dan ditetapkan secara resmi kepada publik sebagai mendukung kampus inklusif," bebernya.
Peresmian simbolik ULD melalui tombol virtual diwakili oleh Lanny Hartanti selaku Wakil Rektor III, Luluk Prijambodo selaku Dekan FKIP UKWMS, Kristiana Pudji Astuti selaku Kepala BAAK UKWMS, dan Jovian Putra Santoso selaku mahasiswa Prodi Psikologi UKWMS.
Selain peresmian, juga dilakukan talkshow yang mengusung tema Bergerak Serentak Menuju Kampus Inklusi dengan narasumber yakni, mahasiswa penyandang disabilitas Valerie Rizkia Fabrian dari Fakultas Bisnis, Josephine Kintan alumnus dari Fakultas Teknologi Pertanian, Andi Rachmadi dari Komunitas Kedaibilitas.
Selain itu dari Keuskupan Surabaya, RD. Tri Budi Agustinus Utomo dengan dimoderatori dosen dari Prodi Psikologi UKWMS, Eli Prasetyo.
Pada sesi tanya jawab, Valerie dan Kintan menyampaikan aspirasi mereka mengenai kesan pesan selama beraktivitas di perkuliahan. Valerie menuturkan bahwa kampus UKWMS sudah cukup inklusif bagi mahasiswanya.
"Selama berkuliah tidak mengalami perundungan atau dikecualikan dalam komunitas mahasiswa. Hal ini terbukti dengan pencapaiannya yang aktif di dalam organisasi mahasiswa," ujar Valerie yang juga sebagai anggota BEM Fakultas Bisnis itu.
Sementara itu Kintan sebagai penyandang tunarungu memiliki kisah berbeda selama perkuliahan. Dengan keterbatasannya, Kintan perlu mengoptimalkan media belajar melalui visual, meminjam catatan teman, dan mempelajarinya kembali setelah perkuliahan.
Baca juga: Saksi: Ranto dan Agustin Yakinkan Investasi, Rp5 Miliar Masuk Rekening Perusahaan
“Saya membutuhkan usaha yang lebih keras dibandingkan teman-teman lainnya karena ketimpangan akses selama perkuliahan. Persepsi tiap dosen dan teman-teman bervariasi terhadap disabilitas, hingga stigma negatif sebetulnya berasal dari ketidaktahuan untuk bersikap serta mengenal dan memahami mahasiswa disabilitas," ungkap Kintan
"Oleh sebab itu, pembagian informasi akan disabilitas perlu terdapat di universitas. Di lain sisi saya bersyukur karena tetap memperoleh dukungan dari orang tua, sahabat, dan dosen di perkuliahan,” imbuh Kintan.
Ketidaktahuan masyarakat dalam menghadapi rekan disabilitas juga disampaikan oleh Andi Rachmadi dari komunitas Kedaibilitas.
Menurut Andi, banyak perundungan yang tidak terekspos diterima oleh rekan disabilitas. Hal ini disebabkan minimnya pemahaman dan edukasi masyarakat mengenai disabilitas, jenis disabilitas, dan bentuk respons yang ditunjukkan kepada rekan disabilitas. Karena hal tersebut perlu untuk melatih rekan-rekan disabilitas agar dapat menunjukkan kemampuan dan kelebihan mereka sehingga dapat diterima oleh masyarakat.
“Melalui Kedaibilitas kami melatih teman-teman disabilitas untuk mandiri secara emosi, fisik, fungsi tubuh, sosial, dan ekonomi sehingga mereka siap untuk terjun di masyarakat. Jika diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan teman-teman disabilitas dapat diterima dengan baik di masyarakat,” jelas Andi.
Baca juga: DPRD Desak Pemkot Mediasi Polemik Kos Empat Lantai Mulyorejo
Kepedulian untuk menggalakkan inklusivitas serta memberi ruang yang setara bagi rekan-rekan disabilitas, tak hanya berasal dari komunitas disabilitas di lingkup awam. Gereja Katolik juga mengambil peran untuk melindungi dan memberi ruang hak-hak anak dan orang dewasa disabilitas.
Keuskupan Surabaya, RD. Tri Budi Agustinus Utomo mengatakan di bawah naungannya memiliki Komunitas Petrus Surabaya sebagai paguyuban ekaristi anak-anak tuli Katolik. Inisiasi terbentuknya komunitas tersebut berawal dari kerinduan rekan-rekan disabilitas untuk bisa beribadah.
Tetapi kala itu, belum ada layanan khusus ibadah bagi mereka. Sehingga Gereja perlu melakukan pendataan umat Katolik difabel, agar memiliki ruang yang ramah bagi mereka, sama seperti umat lainnya.
“Gereja selalu berupaya untuk menyediakan ruang aman dan ramah bagi umat Katolik difabel, sebagai tanggung jawab aktif membela dan memajukan hak penyandang disabilitas. Membentuk inklusi dan integritas bagi masyarakat serta kehidupan menggereja sehingga dapat menghilangkan stigma disabilitas di masyarakat," ungkap RD. Tri Budi Agustinus Utomo.
"Gereja dipanggil untuk mengubah apatisme, ketidakpedulian, ketidaktahuan menjadi kedekatan yang sungguh mengerti (empati). UKWMS sebagai kampus Katolik perlu melihat dan memahami bahwa semua mahasiswa memiliki martabat yang sama,” imbuhnya.
Editor : Achmad S
