16 Desember 55 Tahun Lalu, Aktivis Soe Hok Gie Tewas di Puncak Semeru

16 Desember 55 Tahun Lalu, Aktivis Soe Hok Gie Tewas di Puncak Semeru © mili.id

Soe Hok Gie (Dok. Mapala UI)

mili.id - Pada 16 Desember 1969 atau 55 tahun lalu, Soe Hok Gie, seorang mahasiswa dan aktivis Indonesia meninggal dunia di kawasan puncak Gunung Semeru, Jawa Timur.

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Jurusan Sejarah ini meninggal di gunung tertinggi Pulau Jawa karena menghirup gas beracun, beberapa jam sebelum genap berusia 27 tahun.

Baca juga: 10 April 210 Tahun Lalu, Iklim Dunia Kacau Akibat Letusan Gunung Tambora

Soe Hok Gie yang merupakan salah satu pendiri Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI tersebut, diketahui memulai pendakian menuju puncak 3.676 mdpl pada 12 Desember 1969.

Bersama temannya, Aristides Katoppo, Herman Onesimus Lantang, Abdurrachman, Anton Wijana, Rudy Badil, dan dua anak didik Herman Idhan Dhanvantari Lubis serta Freddy Lodewijk Lasut, Soe Hok Gie berangkat dari Stasiun Gambir pukul 07.00 ke Stasiun Gubeng Surabaya.

Pendakian itu istimewa bagi pemuda etnis Tionghoa ini, lantaran pada 17 Desember ia akan merayakan ulang tahun ke-27. Tim ini berbekal buku terbitan Belanda Tahun 1930 tentang panduan naik Semeru. Mereka menggunakan jalur yang tak umum dan belum terjamah.

Jika biasanya jalur yang dipakai penduduk dengan menggunakan Desa Ranupane dengan jalur landai, tim ini mendaki melalui Kali Amprong mengikuti pematang Gunung Ayek Ayek, sampai turun ke arah Oro Oro Ombo.

Perjalanan pun dilanjutkan. Sampai di Arcopodo, mereka membentangkan ponco (jas hujan dari militer) untuk jadi tempat perlindungan, meninggalkan tas dan tenda. Rombongan dibagi menjadi dua kelompok.

Aristides, Hok Gie, Rudy Badil, Maman, Wiwiek, dan Freddy. Sedangkan Herman bersama Idhan. Sampai di Puncak Mahameru jelang sore, tenaga mereka sudah habis. Hok Gie menunggu Herman yang tertinggal di belakang.

Menghirup Gas Beracun

Herman dan Idhan akhirnya tiba di Puncak Mahameru. Sesampainya di sana, Hok Gie saat itu sedang dalam kondisi duduk dan kemudian Idham ikut duduk, tetapi Herman tetap berdiri.

Karena duduk itu, menurut Herman, Hok Gie dan Idhan menghirup gas beracun yang massanya lebih berat dari oksigen. Herman bercerita kondisi Hok Gie kala itu sudah sangat lemas.

Tiba-tiba, Hok Gie tak bersuara dan lemas. Saat itu juga Hok Gie dinyatakan tewas oleh Herman. Evakuasi jenazah Gie dan Idhan dilakukan dengan proses yang terbilang panjang.

Pada 24 Desember, jenazah keduanya tiba di rumah masing-masing, kemudian disemayamkan di Fakultas Sastra UI Rawamangun.

Baca juga: 8 Februari 42 Tahun Lalu Olga Syahputra Dilahirkan, Begini Perjalanan Hidupnya

Sepak Terjang Gie Kritik Soekarno dan Soeharto

Soe Hok Gie tercatat aktif di sebuah lembaga Tionghoa bernama Lembaga Pembina Kesatuan Bangsa (LPKB).

Di lembaga tersebut, dia menjadi editor dari jurnal yang mereka terbitkan. Jurnal tersebut bernama Bara Eka.

Dia juga aktif di Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS) dan senat Fakultas Sastra UI. Di organisasi yang diikutinya, dia aktif mengkritik pemerintah lewat tulisan-tulisannya.

Di LPKB, Soe Hok Gie aktif menulis tentang isu-isu asimilasi antara penduduk Tionghoa dan keturunan suku-suku lainnya di Indonesia.

Sementara di GMS, Soe Hok Gie aktif menulis dan mengadakan berbagai seminar untuk memunculkan sikap kritis mahasiswa terhadap pemerintahan Soekarno.

Puncaknya, melalui Senat Fakultas Sastra Indonesia, Soe Hok Gie dan kawan-kawannya angkatan 1966 turut merancang serangkaian demonstrasi seiring kenaikan harga bahan-bahan pokok karena tingginya inflasi saat itu.

Baca juga: 29 Januari 75 Tahun Lalu, Panglima Besar Jenderal Soedirman Wafat

Hingga akhirnya, posisi Soekarno terdesak dan menyerahkan kekuasaan sementara kepada Soeharto yang kala itu menjabat Pangkostrad, melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).

Lewat berbagai manuver politik, Soeharto pun menjabat Presiden RI menggantikan Soekarno.

Kekuasaan berganti, tetapi Soe Hok Gie tetap konsisten menyampaikan kritik kepada, kali ini pada Soeharto.

Soe Hok Gie aktif menulis di harian Sinar Harapan dan Kompas untuk melayangkan kritikannya kepada pemerintahan Soeharto.

 

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait