29 Januari 75 Tahun Lalu, Panglima Besar Jenderal Soedirman Wafat

29 Januari 75 Tahun Lalu, Panglima Besar Jenderal Soedirman Wafat © mili.id

Jenderal Soedirman diabadikan melalui sebuah film (Foto: IG Film Soedirman)

Surabaya, mili.id - Pada 29 Januari 1950 atau 75 tahun lalu, Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada usia 34 tahun di Magelang, Jawa Tengah karena penyakit TBC.

Kabar kematian Pahlawan Nasional Republik Indonesia tersebut sempat membuat gempar masyarakat saat itu. Setelah berita kematiannya disiarkan, rumah keluarga Soedirman dipadati para pelayat.

Baca juga: Jejak “Universitas Kuno” Nusantara: Sriwijaya Disebut Pusat Pendidikan Dunia Jauh Sebelum Oxford Berdiri

Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, diiringi konvoi pemakaman yang dipimpin empat tank dan 80 kendaraan bermotor yang diselenggarakan anggota Brigade IX.

Ribuan warga juga berdiri di sisi jalan sebagai wujud penghormatan. Jenazah Soedirman disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman pada sore hari, yang dihadiri sejumlah elite militer dan politik Indonesia maupun asing.

Upacara ini ditutup dengan prosesi hormat 24 senjata. Jenazah Soedirman kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan Semaki dengan berjalan kaki. Sementara kerumunan pelayat saat itu dilaporkan hingga sepanjang 2 kilometer mengiringi di belakang.

Sosok Soedirman Kecil

Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem. Dia dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, juga diajarkan etika dan tata krama priyayi, serta etos kerja dan kesederhanaan wong cilik.

Untuk pendidikan agama, ia dan adiknya mempelajari Islam di bawah bimbingan Kiai Haji Qahar. Soedirman adalah anak yang taat agama dan selalu salat tepat waktu.

Saat berusia 7 tahun, Soedirman terdaftar di sekolah pribumi (Hollandsch Inlandsche School). Meskipun hidup berkecukupan, keluarga Soedirman bukanlah keluarga kaya.

Baca juga: Museum Nasional Rayakan HUT ke-248 Lewat Pameran Lampu dan Numismatik

Pada tahun kelimanya bersekolah, Soedirman diminta untuk berhenti sekolah sehubungan dengan ejekan yang diterimanya di sekolah milik pemerintah.

Permintaan ini awalnya ditolak, tapi Soedirman dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa pada tahun ketujuh sekolah.

Pada tahun kedelapan, Soedirman pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo setelah sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar, karena diketahui tidak terdaftar.

Soedirman lemah dalam pelajaran kaligrafi Jawa. Namun ia sangat pintar dalam pelajaran matematika, ilmu alam, dan menulis, baik bahasa Belanda maupun Indonesia.

Baca juga: Pakar Soal Wacana Penulisan Ulang Sejarah Indonesia: Harus Objektif, Jangan Politis

Saat bersekolah di Wirotomo, Soedirman adalah anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik. Ia membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milik Muhammadiyah.

Soedirman menjadi pemimpin Hizboel Wathan Cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo. Tugasnya adalah menentukan dan merencanakan kegiatan kelompoknya.

Ia menekankan perlunya pendidikan agama, bersikeras bahwa kontingen dari Cilacap harus menghadiri konferensi Muhammadiyah di seluruh Jawa.

Oleh Soedirman, para anggota muda Hizboel Wathan diajari tentang sejarah Islam dan pentingnya moralitas, sedangkan pada anggota yang lebih tua ia berlakukan disiplin militer.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait