Teatrikal Kereta Api Terakhir Surabaya di Stasiun Gubeng

Teatrikal Kereta Api Terakhir Surabaya di Stasiun Gubeng © mili.id

Teatrikal oleh Komunitas Begandring dan pekerja Daop 8 di Stasiun Gubeng Surabaya (Foto: Bejo/mili.id)

Surabaya - Stasiun Gubeng menjadi saksi kunci pertempuran besar di Kota Surabaya 79 tahun silam, tepatnya 17 November 1945.

Menggandeng Komunitas Begandring Surabaya, KAI Daop 8 menyuguhkan teatrikal yang menceritakan sejarah "Kereta Api Terakhir Surabaya" di sisi barat Stasiun Gubeng, Minggu (17/11/2024).

Baca juga: DPMM FC Gagal Pertahankan Keunggulan, Tampines Rovers Paksa Laga Berakhir Imbang 2-2 di Piala Presiden 2026

Executive Vice President KAI Daop 8, Wisnu Pramudyo mengatakan, teatrikal ini melibatkan 100 peserta dari Komunitas Begandring dan 200 pekerja daop.

Teatrikal ini disuguhkan untuk mengenalkan nilai-nilai perjuangan dan patriotisme warga Surabaya pada 17 sampai 20 November 1945.

"Teatrikal ini menceritakan aksi penyelamatan sekitar 3.000 korban dan pasien Rumah Sakit Simpang ke luar Kota Surabaya, dan menjadikan Stasiun Surabaya Gubeng sebagai titik tolak keberangkatan," jelas Wisnu.

Teatrikal oleh Komunitas Begandring dan pekerja Daop 8 di Stasiun Gubeng Surabaya (Foto: Bejo/mili.id)Teatrikal oleh Komunitas Begandring dan pekerja Daop 8 di Stasiun Gubeng Surabaya (Foto: Bejo/mili.id)

Dia berharap, teatrikal ini bisa menyampaikan pesan moral kepahlawanan para pejuang Surabaya, kepada calon pelanggan yang saat ini didominasi generasi milenial maupun Gen-Z.

Baca juga: Pemkot Surabaya Tertibkan Bangli Demi Lindungi Aset Daerah Strategis

"Kereta Api Terakhir Surabaya bukan hanya sekedar drama sejarah, tetapi juga sebuah refleksi tentang keberanian, solidaritas, dan perjalanan para pejuang dari Kota Surabaya dalam menghadapi ketidakpastian dan kesulitan," terangnya.

Sinopsis Kereta Api Terakhir Surabaya

Reka ulang Kereta Api Terakhir Surabaya dilakukan untuk menghormati jasa besar jawatan kereta api dan tenaga kesehatan yang mengevakuasi 3.000 korban pertempuran Surabaya dari Rumah Sakit Simpang ke Stasiun Gubeng untuk selanjutnya menuju ke daerah aman.

Evakuasi dilakukan selama 3 malam, mulai pukul 19.00 sampai 02.00 dari tanggal 17 hingga 20 November 1945, di tengah bayang-bayang tembakan mortir dan meriam Inggris.

Baca juga: 169 Ribu KK Surabaya Terancam Diblokir Akses Cek-in Warga

Dalam keadaan gelap gulita, evakuasi dilakukan. Hanya nyala temaran lilin di dalam Stasiun Gubeng yang menjadi penerang utama.

Tandu-tandu berisi korban, perlengkapan chirug dan alat-alat kesehatan diangkut menuju Stasiun Gubeng, berjejas-jejas Kereta Api Revolusi silih berganti keluar masuk stasiun.

"Pada hari ini, Minggu, 17 November 2024, kita melakukan reka ulang peristiwa yang benar-benar terjadi di Surabaya, ditanggal yang sama, 79 tahun lalu," pungkasnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait