Rusa Bawean (dok. Instagram @bumin.gresik)
Gresik – Rentetan bencana gempa bumi di Pulau Bawean, Gresik, yang terjadi sejak 22 Maret 2024 lalu. Mengakibatkan tempat penangkaran rusa endemik bawean rusak parah.
Pagar penangkaran yang terleak di Desa Pudakit Timur, Sangkapura itu jebol dan miring sejauh 50 meter, hingga membuat 20 rusa kabur dan 6 rusa yang tersisa mati.
Baca juga: Haul ke-71 Habib Abu Bakar Assegaf Siap Digelar, Ratusan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Gresik
Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) BKSDA Pulau Bawean Nur Syamsi mengatakan, kerusakan itu terjadi saat gempa berkekuatan 6.5 magnitudo mengguncang Bawean, 22 Maret lalu.
"Setelah kejadian gempa tersebut, 20 rusa kabur dari pengangkaran," terang Syamsi, Sabtu (11/5).
Menurut Syamsi, dari 20 rusa Bawean yang kabur itu menyisakan 6 rusa di penangkaran. Namun rusa yang tersisa itu akhirnya mati akibat dikejar kejar anjing liar yang masuk lewat jebolan pagar.
"Pagar jebol sudah ditambal dengan jaring, tetapi nahas. Di luar kendali anjing liar tetap bisa masuk dan mengejar rusa hingga stres, kritis. Kemudian 2 rusa mati, lalu disusul 4 rusa mati juga," ungkap Syamsi.
Syamsi menjelaskan, kalau penangkaran rusa di Desa Pudakit Timur itu adalah milik perorangan dan sudah mengantongi ijin.
Untuk itu, lanjut Syamsi, dirinya telah komunikasi dengan BKSDA Jatim dan Taman Safari Indonesia (TSI) untuk segera dilakukan perbaikan penangkaran.
Baca juga: Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Pangandaran Saat Subuh, Getaran Terasa hingga Garut dan Tasikmalaya
"Menunggu TSI untuk tindak lanjutnya, sementara ini pagar di penangkaran masih belum diperbaiki," rincinya.
"Atau terdapat alternatif lain. Rencananya ini akan ambil rusa lagi di Pantai Mombul. Dengan berkoordinasi bersama TSI," pungkasnya Syamsi.
Editor : Aris S
