Lilik Ernawati, penyintas kanker payudara (Foto: Zain Ahmad/mili.id)
Surabaya - Rasa senang bercampur lega dirasakan Lilik Ernawati, setelah dinyatakan bebas dari kanker payudara.
Perjuangannya selama 8 tahun pun terbayar. Kini, dia bisa beraktivitas dengan nyaman dan pede.
Baca juga: Eri Sikat Pungli SWK, Pengelolaan PKL Dikembalikan ke Pemkot
Bagaimana cara perempuan 47 tahun asal Surabaya ini bisa kuat berjuang melawan tumor ganas tersebut?
"Yang pasti, utamanya saya rutin periksa, cek rutin," ungkap Lilik mengawali ceritanya kepada mili.id, Sabtu (27/4/2024).
Lilik menceritakan awal munculnya tumor hingga kemudian dinyatakan oleh medis sebagai kanker payudara itu, bermula dari nyeri pada payudaranya bagian kanan. Terutama menjelang menstruasi.
Kejadian tersebut terjadi pada Tahun 2014. Saat itu, ia berpikir hanyalah nyeri biasa, sampai hampir satu tahun berjalan. Setelah satu tahun, tiba-tiba muncul benjolan seperti biji kacang hijau. Jika dipegang akan terasa teksturnya.
Mengetahui itu, Lilik lantas melakukan pemeriksaan ke dokter onkologi dan disarankan USG mammografi dan biopsi. Dari situlah, kemudian ketahuan ada tumor ganas yang bercokol di payudaranya.
"Mammografi ini merupakan tes pemindaian untuk melihat gambaran kelenjar payudara dan jaringan di sekitarnya. Di situ diketahui saya ternyata terkena tumor ganas," terangnya.
Lilik kemudian berusaha berobat dan saat itu yang dipilihnya adalah Medicelle Clinic Surabaya. Ia memilih tempat itu lantaran pertimbangan semua tenaga medisnya adalah perempuan.
"Di tempat itu saya jadi gak malu. Percaya diri juga. Karena semua pegawainya perempuan, dokternya juga," ungkapnya.
Karena dirasa cocok, Lilik rutin melakukan perawatan dan bergaul bersama komunitas survivor maupun penyintas. Semua seperti saudara bagi dirinya.
Baca juga: Eri Cahyadi Dukung Pengusutan Korupsi KBS, Audit BUMD Diperketat
"Saya berjuang untuk sembuh ini sudah delapan tahun. Sempat putus asa dan malu. Tapi saya banyak support, kemudian saya yakin bisa sembuh. Alhamdulillah akhirnya sekarang bisa terbebas dari kanker payudara," jelasnya.
Lilik mengaku, perjuangannya itu tak selalu berjalan mulus. Bahkan ia sempat mengalami gejala kanker berulang sampai tiga kali dalam masa tersebut. Total, ia telah menjalani tiga paket kemoterapi. Setiap paket membutuhkan 6 sampai 7 kali kemoterapi.
"Kalau ditotal saya sudah 18 kali kemoterapi ditambah dengan radiasi, operasi tiga kali. Terakhir saya operasi tahun 2018 dengan dr Sahar Bawazier," sebutnya.
"Dan alhamdulillah pada tahun kelima di bawah penanganan tenaga medis Medicelle Clinic saya bisa sembuh. Meski begitu saya tetap cek rutin sampai sekarang. Saya awalnya survivor, sekarang menjadi penyintas," tambah Lilik.
Setiap satu tahun sekali, Lilik melakukan USG payudara dan mammografi ulang. Walaupun dinyatakan bebas kanker payudara, screening tetap harus dilakukan untuk memastikan kanker tak lagi muncul.
Baca juga: PDIP Surabaya Terima Banpol Lebih Rp6 Miliar, Fokus Pendidikan Politik
Penyebab kanker payudara sendiri multifaktor. Kanker termasuk tumor ganas. Tidak ada yang bisa memastikan kemunculannya. Maka penting melakukan pemeriksaan sejak dini.
Begitu pula bagi yang kemungkinan sudah terdeteksi kanker payudara, jangan sampai menghindari pengobatan medis dengan alasan biaya. Kebanyakan justru beralih ke pengobatan alternatif. Padahal nyawa di atas segalanya.
"Mereka yang melakukan pengobatan alternatif kayaknya kehabisan biaya juga nggak sembuh-sembuh kebanyakan. Biaya yang mereka keluarkan bahkan lebih banyak daripada kalau dia langsung ke medis," papar dia.
Saat datang ke pengobatan medis, dikhawatirkan sudah terlambat tertangani. Karena tidak melakukan treatment secara bertahap sejak awal.
"Dari pengalaman saya, yang paling penting memang deteksi dini. Cek secara rutin. Kemudian jangan malu. Setelah itu sabar, istiqomah dan semangat. Itu saja sih mungkin. Dan mudah-mudahan bagi teman-teman yang saat ini masih berjuang, bisa segera diberi kesembuhan. Harus semangat," pungkasnya.
Editor : Narendra Bakrie
