Warga tetap menunaikan salat tarawih meskipun di depan teras rumah.(Foto: Rama Indra/mili.id)
Gresik – Perasaan was-was masih menggelayuti benak hati warga Desa Kepuh Legundi, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, usai gempa 6,5 Magnitudo melanda wilayahnya, Jumat (22/3) lalu.
Meski perasaan mereka campur aduk, dalam Ramadan ini pengungsi hingga warga setempat tetap khuysuk melaksanakan serangkaian ibadah puasa.
Baca juga: Haul ke-71 Habib Abu Bakar Assegaf Siap Digelar, Ratusan Ribu Jemaah Diprediksi Padati Gresik
Sebagai contoh, mereka tetap menunaikan salat tarawih di depan teras rumah, dan ada juga yang menunaikan tarawih di sekat sekat tenda darurat.
Jauhari (42), salah seorang warga pengungsi di Desa Kepuh Legundi itu mengatakan, meskipun dirinya bersama warga saat ini tetap waspada, namun disaat ibadah puasa, warga tetap lancar menunaikan.
"Alhamdulillah, di tengan bencana kita masih bisa melaksanakan kewajiban puasa, salat berjemaah, salat tarawih di area pengunsian," terang Ari saat ditemui Minggu (24/3), usai menunaikan tarawih.
Ari menjelaskan, meskipun dengan terbatasnya kebutuhan bahan pangan yang tersedia dan juga tenda seadanya. Namun warga bisa tenang karena juga terbantu oleh uluran tangan dari warga, desa, dan BPBD.
Baca juga: Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Pangandaran Saat Subuh, Getaran Terasa hingga Garut dan Tasikmalaya
Menurutnya, berbuka puasa serta sahur di lokasi pengungsian ini, warga saling bergotong royong, mulai Memasak, menyiapkan hidangan di dapur umum.
"Dan untuk buka puasa dan sahur, dari pihak desa pun juga turut mengusahakan dengan memberikan bantuan berupa sembako, telor, juga air mineral," jelasnya.
Editor : Aris S
