Cerita di Balik Sosok Gaib Penunggu Sungai Rolak Wedok Surabaya

Cerita di Balik Sosok Gaib Penunggu Sungai Rolak Wedok Surabaya © mili.id

Penampakan Sungai Rolak Wedok Surabaya (Foto: Rama Indra/mili.id)

Surabaya - Suasana mistis begitu terasa di Sungai Rolak Wedok, Surabaya, lokasi ditemukannya Dedi Sudarmadi (40) dalam kondisi tewas, dengan tubuh dan tangan terlilit jala ikan, Rabu (28/2/2024).

Agus, seorang tukang becak motor yang biasa mangkal di lokasi sejak tahun 80-an mengaku telah puluhan kali menjadi saksi hidup korban-korban yang tewas tenggelam di Sungai Rolak Wedok itu.

Baca juga: Eri Sikat Pungli SWK, Pengelolaan PKL Dikembalikan ke Pemkot

Baca juga: Pencari Ikan Tewas Terlilit Jala di Sungai Rolak Wedok Surabaya

Dia menjelaskan bahwa dalam pusaran arus air Sungai Rolak Wedok tersebut ada danyang penunggu, berupa buaya putih betina, pasangan buaya putih jantan penunggu Sungai Kali Jagir Wonokromo, tak jauh dari Sungai Rolak Wedok.

"Aku takut sebenarnya cerita. Di sini memang ada danyang penunggunya buaya putih perempuan. Itu adalah pasangan buaya putih laki-laki si penunggu Sungai Kali Jagir di sana," terang Agus lirih dari atas becaknya, Rabu (28/2/2024) petang.

Agus juga menjelaskan nama sungai itu, hingga disebut Rolak Wedok. Menurutnya, nama itu dikaitkan dengan penungguannya, buaya putih betina.

Menurut Agus, selama dirinya melihat banyaknya kejadian orang tenggelam di Sungai Rolak Wedok, di situ dipastikan tidak ada satu orang pun berani menolong.

Baca juga: Eri Cahyadi Dukung Pengusutan Korupsi KBS, Audit BUMD Diperketat

Katanya, siapapun yang menolong pasti dia juga akan terseret, tenggelam ke dasar sungai. Dan itu dipastikan tidak selamat.

"Pernah waktu itu satu (orang) tenggelam, satunya berniat nolong. Akhirnya keduanya sama-sama tidak selamat. Wong di bawah itu ada yang gandoli (di bawah itu ada yang memegangi)," ungkap Agus.

Agus bahkan menandai, bila setiap ada ikan berkumpul naik ke permukaan sungai, kemudian ada orang yang mengambil, tidak lama pasti di hari-hari setelahnya ada orang tewas tenggelam.

Baca juga: PDIP Surabaya Terima Banpol Lebih Rp6 Miliar, Fokus Pendidikan Politik

"Tandanya pasti seperti itu, kalau orang sini pasti paham. Jadi fenomena jarang dan janggal ikan-ikan itu naik ke permukaan seperti pusing. Orang ambil kesempatan di situ, dijala, dipancing dapat sekarung. Tapi setelah itu, pasti bakal ada korban," beber Agus.

Agus mengaku, beberapa kali bermalam di atas becaknya di trotoar dekat Sungai Rolak Wedok. Dia selalu ditiup-tiup kepalanya, hingga membuat bulu kuduknya merinding.

"Suasanya memang enak, rindang, teduh, dan ada angin. Saya setiap harinya ya tidur di sini. Kadang ada rasa ndak enaknya, ya tinggal geser di sebelah sana," pungkas Agus.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait