Jawa Tengah

Festival Balon Pekalongan 2026: Tradisi Syawalan Dikemas Aman dan Atraktif

Festival Balon Pekalongan 2026: Tradisi Syawalan Dikemas Aman dan Atraktif © mili.id

Suasana festival balon udara, tradisi Syawalan masyarakat Pekalongan

Mili.id — Sebanyak 79 tim dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun luar Kota Pekalongan, ambil bagian dalam Pekalongan Balloon Festival 2026. Ajang kompetisi balon udara tradisional ini digelar secara bertahap melalui babak penyisihan pada 23–24 Maret 2026 dan akan mencapai puncaknya pada grand final, Sabtu (28/3/2026).

Festival yang mengusung tema “Jaga Tradisi, Jaga Langit, Jaga Kota” ini menjadi upaya pemerintah daerah menjaga tradisi balon udara tetap lestari tanpa mengabaikan aspek keselamatan masyarakat.

Baca juga: Ditangkap KPK, Fadia Arafiq Ngaku Tak Paham Hukum Karena Latar Belakang Pedangdut

Kepala Bidang Pariwisata Dinparbudpora Kota Pekalongan, Retno Purnomo, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi solusi untuk menekan penerbangan balon liar yang berpotensi membahayakan.

“Harapannya dengan festival ini tidak ada lagi balon-balon yang diterbangkan secara liar maupun mengganggu area kelistrikan,” ujar Retno saat ditemui di Lapangan Setono, Senin (23/3/2026).

Digelar Bertahap di Empat Lokasi
Pelaksanaan festival dibagi dalam dua tahapan utama, yakni babak penyisihan dan grand final. Babak penyisihan berlangsung di sejumlah lokasi berbeda, antara lain Lapangan Setono dan Lapangan Sokoduwet pada 23 Maret 2026, serta Lapangan Peturen Tirto dan Lapangan Leo Krapyak pada 24 Maret 2026.

Dari setiap lokasi penyisihan, panitia memilih 10 tim terbaik untuk melaju ke babak puncak. Grand final akan digelar di Stadion Hoegeng bertepatan dengan momentum tradisi Syawalan masyarakat Kota Pekalongan.

Selain kompetisi utama, babak final juga akan dimeriahkan penampilan tim ekshibisi asal Wonosobo yang menampilkan atraksi balon udara khas daerah tersebut.

Wadah Kreativitas dan Edukasi Keselamatan
Camat Pekalongan Utara, Wismo Aditio, menyebut pelaksanaan festival secara bertahap di tiap kecamatan telah dilakukan sejak tahun lalu dan terbukti efektif sebagai sarana penyaluran kreativitas masyarakat.

Menurutnya, festival ini menjadi ruang positif bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyalurkan hobi secara aman dan terorganisasi.

Baca juga: OTT Ketujuh Tahun 2026, KPK Amankan Bupati Pekalongan

“Kegiatan ini menjadi wadah kreativitas anak-anak muda untuk berkompetisi secara positif sekaligus menekan angka penerbangan balon liar,” ujarnya.

Pemerintah juga terus melakukan edukasi terkait bahaya balon liar dan penggunaan petasan yang berisiko mengganggu jalur penerbangan hingga memicu kebakaran.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menggunakan dalih tradisi dalam melakukan hal-hal yang berpotensi membahayakan. Mari kita alihkan ke kegiatan yang lebih produktif seperti festival ini,” tambahnya.

Balon Jenderal Hoegeng Jadi Sorotan
Salah satu peserta yang mencuri perhatian pengunjung adalah Tim PPG Landungsari. Tim ini menerbangkan balon berdiameter 14 meter dengan tinggi mencapai 14 meter yang mengangkat konsep tokoh nasional Jenderal Hoegeng dipadukan dengan ikon khas Kota Pekalongan.

Baca juga: Jawa Tengah Bakal Punya KRL: Semarang, Batang hingga Demak Dilirik Jadi Jalurnya

Ketua tim, Ulil Albab, mengungkapkan proses pembuatan balon melibatkan tujuh anggota selama kurang lebih dua bulan.

“Kami mengangkat sosok Jenderal Hoegeng yang dikenal jujur, dipadukan dengan batik khas Pekalongan, logo kota, dan Museum Batik,” jelasnya.

Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam pembuatan balon adalah menggambar karakter tokoh agar terlihat menyerupai aslinya, serta menghadapi faktor cuaca seperti angin kencang saat penerbangan.

Timnya pun optimistis mampu melaju hingga babak grand final dan meraih hasil terbaik dalam kompetisi tahun ini.

Editor : Redaksi



Berita Terkait