Personel Angkatan Laut Iran tampak mengawal sebuah kapal tanker yang tengah melintasi Selat Hormuz. (Foto: Anadolu Agency)
Mili.id — Di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan, Iran mulai melonggarkan kontrol atas Selat Hormuz dengan kebijakan selektif. Otoritas di Teheran kini mengizinkan kapal-kapal dari negara tertentu melintas dengan pengawalan militer, sementara lainnya masih tertahan—termasuk dua kapal tanker milik Indonesia.
Kebijakan ini terlihat dari lolosnya kapal tanker milik perusahaan energi Thailand, Bangchak Corporation, yang berhasil melintasi selat tersebut dengan aman pada awal pekan ini. Pemerintah Thailand mengakui keberhasilan itu merupakan hasil dari lobi diplomatik intensif dengan pihak Iran.
Baca juga: Iran Pertahankan Penutupan Selat Hormuz, Kaitkan dengan Situasi Lebanon dan Ekspor Minyak
Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow, menyebut pihaknya telah menyerahkan daftar kapal kepada otoritas Iran untuk mendapatkan jaminan keamanan selama pelayaran. Langkah ini dinilai krusial, mengingat sebelumnya kapal berbendera Thailand sempat menjadi sasaran serangan di kawasan tersebut.
Berdasarkan pantauan MarineTraffic, sikap Iran ditegaskan langsung oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup, melainkan diatur secara selektif berdasarkan hubungan diplomatik.
Menurutnya, sejumlah negara seperti China, Rusia, India, Pakistan, hingga Irak telah menjalin komunikasi aktif dengan Teheran dan mendapat izin melintas dengan pengawalan. Bahkan beberapa kapal dari negara tersebut sudah berhasil melewati jalur strategis itu dalam beberapa hari terakhir.
Namun sebaliknya, Iran menutup akses bagi kapal yang terafiliasi dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Kawasan tersebut kini dianggap sebagai zona perang dengan risiko tinggi.
Baca juga: Ketegangan AS-Iran Memanas, Saling Serang Picu Kekhawatiran Konflik Meluas
Data dari lembaga intelijen maritim Kpler menunjukkan penurunan drastis lalu lintas di Selat Hormuz. Dari sebelumnya sekitar 138 kapal per hari, kini hanya tersisa rata-rata lima hingga enam kapal yang berani melintas.
Di tengah keberhasilan sejumlah negara melobi Iran, Indonesia masih menghadapi tantangan. Dua kapal tanker nasional, PIS VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini belum mendapat izin melintas.
Berdasarkan data pelacakan, Pertamina Pride saat ini berada di sekitar perairan Dammam, Arab Saudi, sementara Gamsunoro terpantau di dekat perbatasan Kuwait dan Irak.
Baca juga: AS dan Iran Dikabarkan Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz dan Uranium
Meski tertahan, Pertamina International Shipping memastikan keselamatan awak kapal dan kargo tetap terjaga. Perusahaan juga menegaskan bahwa kondisi ini belum berdampak pada pasokan energi dalam negeri.
Pjs Sekretaris Korporat PIS, Vega Pita, menyebut operasional energi nasional tetap stabil karena armada Pertamina yang besar.
Kini, upaya diplomasi menjadi kunci. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terus menjalin komunikasi dengan otoritas Iran agar kapal Indonesia dapat segera memperoleh izin melintas dengan aman di Selat Hormuz.
Editor : Erwin Muhammad
