Eric Schmidt Peringatkan Bahaya Gelap AI: Teknologi Ini Bisa Membunuh Manusia

Eric Schmidt Peringatkan Bahaya Gelap AI: Teknologi Ini Bisa Membunuh Manusia © mili.id

Mantan CEO Google, Eric Schmidt

Jakarta,mili.id-Dunia teknologi kembali diguncang peringatan keras dari sosok berpengaruh di Silicon Valley. Mantan CEO Google, Eric Schmidt, mengungkapkan kekhawatiran mendalam terhadap potensi mematikan dari kecerdasan buatan (AI) yang bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi umat manusia.

Dalam ajang Sifted Summit di London, Schmidt menyatakan bahwa sistem AI yang terus berkembang tidak hanya belajar hal-hal positif, tapi juga bisa “belajar membunuh” jika jatuh ke tangan yang salah.

Baca juga: Google Tambah 25 Juta Pelanggan Baru di Awal 2026, Langganan Jadi Motor Pertumbuhan

“Contoh buruknya adalah ketika mereka belajar bagaimana cara membunuh seseorang,” ujar Schmidt tegas, dikutip dari CNN, Minggu (12/10/2025).
AI Bisa Diretas dan Dijalankan Tanpa Batasan

Schmidt menjelaskan bahwa baik model AI open-source maupun tertutup sangat rentan diretas untuk menghapus guardrails atau batasan keamanannya. Ia menyebut hal ini sebagai ancaman serius karena membuat AI dapat digunakan tanpa kendali etika.

“Semua perusahaan besar sudah memasang batasan keamanan, dan itu keputusan tepat. Tapi masalahnya, sistem itu masih bisa direkayasa ulang atau di-jailbreak,” kata Schmidt.

Salah satu kasus paling terkenal adalah DAN (Do Anything Now), versi modifikasi dari ChatGPT yang muncul pada 2023. Model ini berhasil “dipaksa” melanggar aturan dengan trik manipulatif, bahkan menjawab pertanyaan berbahaya setelah “diancam” secara fiktif oleh pengguna.

Baca juga: Tak Patuhi PP Tunas, Meta dan Google Dipanggil Komdigi

Seruan untuk Regulasi Global

Lebih jauh, Schmidt menegaskan perlunya mekanisme pencegahan penyebaran AI berbahaya, layaknya rezim non-proliferasi senjata nuklir. Ia menilai dunia belum memiliki regulasi global yang mampu mengontrol laju penyebaran AI, sehingga terbuka peluang disalahgunakan oleh kelompok teroris atau negara bermusuhan.

Peringatan Schmidt ini sejalan dengan pernyataan Elon Musk pada 2023, yang menyebut risiko AI bisa menyerupai skenario film Terminator. “Risikonya memang kecil, tapi tidak nol. Kita harus memastikan peluang musnahnya umat manusia mendekati nol,” ujar Musk kala itu.

Baca juga: Sering Gunakan AI Disebut Rawan Kebocoran Data, Ini Cara Mencegahnya

Baik Schmidt maupun Musk menegaskan satu hal: kecerdasan buatan memang membawa potensi revolusioner, namun tanpa regulasi dan etika yang kuat, teknologi ini bisa berubah menjadi senjata yang menakutkan.

Peringatan dua tokoh besar ini menjadi sinyal serius bagi dunia bahwa perlombaan AI bukan hanya soal inovasi, tapi juga tentang keselamatan umat manusia di masa depan.

Editor : Muhammad



Berita Terkait