Geral, petani muda Mojokerto (Foto: Nana/mili.id)
Mojokerto, mili.id - Kisah Geral Hardiyanto, pemuda yang memilih menjadi petani pisang di Mojokerto ini bisa menjadi inspirasi generasi milenial.
Di umurnya yang masih 25 tahun, Geral justru menjadi petani pisang. Kini, dia menggarap kebun pisang yang ditanam di atas lahan seluas 1.500 meter persegi di Dusun Pelabuhan, Desa Canggu, Kevamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
Baca juga: Kisah Inspiratif Harjo Seputro, Anak Bakul Ikan Asin Jadi Warek I Untag Surabaya
Geral tercatat sebagai alumni SMK Taman Siswa, Kota Mojokerto. Mantan cleaning service tersebut, kini sukses menjadi petani pisang dengan omzet jutaan rupiah per bulan.
Perjalanan Geral menjadi petani tak dimulai dari ladang yang subur, melainkan dari sapu dan pel di gedung tempat ia dulu bekerja.
Tahun 2020, saat Pandemi Covid-19 melanda, aktivitas banyak terhenti. Namun, bagi Geral, masa libur kerja selama empat hari justru menjadi pintu awal menuju dunia pertanian.
"Waktu itu saya iseng ikut pelatihan budidaya pisang di Kediri. Mulanya cuma ingin tahu, tapi lama-lama jatuh cinta sama dunia pertanian, khususnya pisang," kenang Geral, Selasa (16/9/2025).

Dari pelatihan singkat itu, Geral mulai mencoba menanam pisang secara mandiri. Ia membeli bibit untuk uji coba, sekaligus menjadikan lahan kecil di desanya sebagai tempat belajar.
Dua tahun berselang, Geral tak hanya memahami seluk-beluk budidaya pisang, tetapi juga mulai meraih omzet dari hasil panennya.
Baca juga: Perjalanan Cinta dan Semangat dalam Segelas Kopikukini
Kini, di lahan sewa di Desa Canggu, Geral membudidayakan tujuh varietas pisang. Mulai Pisang Ambon, Pisang Cavendish, Pisang Susu, Pisang Mas Kirana, Pisang Raja, Pisang Blar, dan Pisang Tanduk.
Pasarnya pun bukan sembarangan. Ia menyuplai hasil panennya ke beberapa instansi kesehatan dan rumah sakit di sekitar Kabupaten Mojokerto.
"Panen pertama biasanya butuh waktu 9 sampai 10 bulan. Tapi mulai generasi kedua, bisa panen setiap 6 sampai 7 bulan," jelasnya.
Harga per tandan cukup menggiurkan. Pisang Susu bisa dijual seharga Rp60.000, sementara Pisang Ambon mencapai Rp90.000 per tandan. Harga lainnya menyesuaikan pasar dan kebutuhan instansi yang bekerjasama dengannya.
Selain menjanjikan secara ekonomi, budidaya pisang juga tergolong mudah. Menurut Geral, tanaman pisang cukup tahan terhadap cuaca dan tak butuh banyak air. Penyiraman satu bulan sekali pun masih aman, asal perawatan seperti pemotongan daun dan indukan dilakukan rutin.
Baca juga: Kisah Inspiratif Wahyu Rianto, Peserta SKD CPNS 2024 Kemenkumham Jatim
Dengan 300 pohon di lahannya, Geral bisa meraih omzet minimal Rp3 juta per bulan. Bukan angka kecil bagi seorang petani muda yang memulai dari nol, bahkan tanpa latar belakang pertanian sekalipun.
"Yang penting niat dan mau belajar. Jangan malu bertani. Justru di sini peluang besar buat anak muda," tegasnya.
Kisah Geral adalah gambaran nyata bahwa pandemi bukan akhir dari segalanya.
Di balik tantangan, ada peluang baru yang menanti. Dari alat pel hingga cangkul, dari gedung kantor ke kebun pisang, ia membuktikan bahwa masa depan bisa ditanam dan dipanen, bahkan sejak usia muda.
Editor : Narendra Bakrie
