Mata Elang Sistem Keamanan Jaringan Karya PENS ini akan Tersertifikasi Internasional

Mata Elang Sistem Keamanan Jaringan Karya PENS ini akan Tersertifikasi Internasional © mili.id

Mata Elang Network-based Intrusion Detection System (NIDS), besutan Grup Riset Keamanan Siber Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Surabaya, mili.id - Mata Elang Network-based Intrusion Detection System (NIDS), besutan Grup Riset Keamanan Siber Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) didukung Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Republik Indonesia untuk meraih sertifikasi internasional.

Sistem yang mampu mendeteksi aktivitas mencurigakan dalam jaringan komputer serta memonitor lalu lintas server secara cepat dan akurat ini, sedang melalui proses evaluasi proses penyusunan dokumen sertifikasi Common Criteria (CC) EAL3.

Baca juga: Perkuat kemandirian Ekonomi Daerah, Pens Pamerkan 7 Inovasi Berdikari di Ponorogo

"NIDS ini diletakkan pada satu titik strategis yang bisa menjangkau semua aktivitas dalam jaringan. Kami upayakan untuk mengoptimalkan kinerjanya, sehingga pertahanan keamanan perangkat dapat dimaksimalkan," kata Dr. Ferry Astika S, Ketua Tim Pengembang Mata Elang NIDS. Kamis (28/8/2025).

Ferry pun melanjutkan, IDS bekerja dengan menganalisis pola lalu lintas server dan aktivitas di dalamnya. Jika ada perubahan pada pola tertentu, sistem ini akan segera memberi informasi kepada perangkat. Lalu lintas server ini dipantau secara real-time sehingga permasalahan sekecil apa pun bisa segera diatasi.

"Tercapai efisiensi administrasi jaringan, dimana sistem berjalan secara otomatis, menyediakan pertahanan pada bagian internal jaringan juga. Dengan kata lain, sistem ini dapat meminimalkan dampak serangan siber yang semakin komplek, dan datanya dapat digunakan sebagai pendukung para pengambil kebijakan terkait perbaikan maupun antisipasi," tegasnya.

Lebih jauh, Mata Elang NIDS ini menjadi salah satu bentuk implementasi kolaborasi berdampak antara kampus PENS dengan pemerintah. Sejalan dengan arah perguruan tinggi, agar menjadi kampus berdampak, melalui pengembangan inovasi di bidang TIK.

Tawaran BSSN disambut baik oleh PENS sehingga pada Mei 2025 dilakukan proses penyusunan dan pendampingan pertama. Kemudian dilanjutkan pendampingan kedua pada 20 Agustus 2025, serta proses penyusunan dokumen sertifikasi Common Criteria (CC) EAL3 bersama Laboratorium Uji Pusat Sertifikasi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Baca juga: PENS Gandeng SMK Kembangkan Teknologi Inovasi Peternakan Berbasis IoT di Ponorogo

Diketahui pada kegiatan itu dihadiri oleh koordinator tim sertifikasi BSSN, Sutoro, dan berlangsung di Gedung Pascasarjana PENS lantai 3.

"Artinya Dokumentasi dan evaluasi ini bukan hanya syarat sertifikasi, tetapi juga menjadi proses pembelajaran agar produk yang lahir dari kampus siap bersaing di tingkat global," pungkas Ferry.

Sementara itu, Koordinator tim sertifikasi BSSN, Sutoro, S.S.T.TP., MT., menyampaikan tentang pentingnya kemandirian nasional. "Jika kita ingin infrastruktur vital dilindungi produk dalam negeri, maka harus ada mekanisme evaluasi yang objektif dan transparan. Sertifikasi ini adalah bentuk komitmen untuk membangun kemandirian keamanan siber Indonesia," jelas Sutoro.

Dengan tersertifikasi EAL3, Mata Elang NIDS nantiniya akan diterapkan pada Infrastruktur Informasi Vital (IIV) Indonesia, termasuk sektor energi, transportasi, telekomunikasi, perbankan, kesehatan, dan pemerintahan.

Baca juga: Agri Dash V.0.0 PENS Dapat Respon Positif di Blitar, Dorong Transformasi Pertanian Berbasis Data

"Keberhasilan sertifikasi ini diharapkan memperkuat kepercayaan publik sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk asing. Sebagai mana diketahui, Common Criteria (CC) merupakan standar internasional ISO/IEC 15408 yang digunakan lebih dari 30 negara untuk mengevaluasi keamanan produk teknologi informasi," urainya.

Dengan menargetkan Evaluation Assurance Level (EAL) 3, Mata Elang NIDS akan melewati proses evaluasi yang mencakup dokumentasi, tata kelola pengembangan, hingga uji ketahanan terhadap ancaman realistis.

"Total dokumen untuk pengajuan sertifikasi ini ada 6 buah, dan 1 telah selesai. Masih ada 5 dokumen lagi yang harus disiapkan. Proses pengajuan umumnya 1 tahun, namun kami berharap Desember akhir tahun ini bisa terselesaikan semuanya, termasuk ujian dari BSSN," imbuh Ferry.

Editor : Redaksi



Berita Terkait