Ketua Umum PSSI, Erick Thohir (tengah) - (Foto: PSSI)
Surabaya, mili.id - Upaya pemberantasan mafia bola yang dilakukan Ketua Umum (Ketum) PSSI, Erick Thohir.
Sebelum menjadi ketum dan saat menjabat, berulangkali Erick menegaskan akan memberantas mafia sepak bola indonesia. Mau bersih-bersih.
Baca juga: Persebaya Pesta Gol, Hajar Persik Kediri 5-0 di Laga Penutup Super League 2025-2026
Sampai saat ini juga begitu.
Janji yang begitu manis, janji yang begitu memikat.
Awalnya memang serius, menjanjikan dan seperti harapan baru bagi sepak bola Indonesia.
Tapi, rasanya Erick hanya gimmick dengan janji memberantas mafia bola itu.
Padahal Tuhan sudah banyak membuka jalan untuknya.
Contoh, Tuhan telah memberikan petunjuk, waktu pemilihan wakil ketua umum PSSI. Jelas-jelas ada kecurangan, ketika di sesi pertama, yang terpilih adalah Zainudin Amali dan Yunus Nusi. Sedangkan Ratu Tisa tersisih.
Waktu ada protes dari beberapa voters dan perwakilan asprov, karena merasa perwakilan tersebut memilih salah satu nama, ternyata waktu direkapitulasi pemilihan itu, nama tidak muncul.
Salah satunya wakil dari Jogjakarta. Waktu itu dia memilih ketuanya sendiri, tapi tidak ada dalam daftar yanng terpilih.
Akhirnya ramai.
Dan pemilihan wakil ketua umum diulang kembali. Yang terpilih adalah Ratu Tisa dan Yunus Nusi. Kemudian Yunis Nusi mundur, lalu Zainudin Amali naik jadi wakil ketua umum.
Sebenarnya Tuhan sudah sangat berbaik hati pada Erick Thohir. Tapi sayang jalan itu tidak dimanfaatkan.
Jadi angin lalu, dibiarkan saja.
Padahal itu bisa jadi pintu masuk untuk mengungkap mafia bola di sepak bola Indonesia.
Karena yang terjadi waktu pemilihan wakil ketua umum itu, yaitu gambaran bagaimana pengaturan pertandingan, siapa saja yang terlibat dalam hal-hal gelap dalam sepak bola Indonesia.
Tapi dibiarkan belalu oleh Erick Thohir.
Erick ini seperti gimmick. Seperti serius, tapi dalam perjalannya, hanya menjadi gimmick.
Dalam perjalanannya, Erick membentuk Satgas Anti Mafia Bola. Ada Maruarar Sirait, Najwa Sihab, ada Akmal Marhali. Seolah ini harapan bahwa ada bersih-bersih serius. Tapi dalam perjalanannya, tetap seperti gimmick.
Karena begitu nama-nama ini diumumkan, sampai detik ini, sampai hari ini, tidak ada SK (Surat Keputusan) tentang pengangkatan soal Satgas Anti Mafia Bola.
Bagaimana mereka mau bekerja ketika tidak SK-nya, tidak ada dasar hukumnya?
Bagaimana mereka melakukan, bergerak untuk memanggil, atau menginvestigasi, tanpa dasar, nggak jelas?
Hanya sekedar diumumkan namanya, tapi tidak ada SK-nya. Akhirnya tidak bisa bergerak.
Baca juga: Arema FC Didesak Bangkit Usai Dua Kekalahan Beruntun, Targetkan Sapu Bersih Empat Laga Sisa
Yang jadi sasaran kan kemudian Najwa Sihab dan Akmal Marhali, yang seolah-olah tidak bisa bekerja.
Faktanya, informasi yang saya dapatkan, mereka sebenarnya sudah bekerja, melakukan langkah-langkah. Najwa Sihab bahkan telah melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi aparat penegak hukum, dengan biaya sendiri.
Tapi tidak ada SK dari ketua umum, akhirnya nggak jalan satgas ini.
Contoh lain adalah yang terjadi di PON Aceh-Sumut, ketika pertandingan Aceh melawan Sulawesi Tengah.
Terjadi keributan karena keputusan konyol wasit. Wasitnya diganti menjelang pertandingan, ternyata wasitnya bertindak sangat konyol. Kemudian wasitnya dibogem, ditonjok sama pemain Sulawesi Tengah.
Saat itu Erick berjanji mengusut tuntas kejadian dalam pertandingan itu. Tapi sampai hari ini tidak ada hasil. Dibiarkan berlalu, tidak ada penyelesaian.
Kejadian itu juga bisa menjadi pintu masuk sangat lebar soal mafia bola.
Tuhan berbaik hati lagi. Erick diberi jalan lagi.
Pengundian drawing Liga 4 putaran nasional. Itu terlihat jelas ada semacam settingan ketika pengundingan itu. Dan publik akhirnya melihat rekaman videonya yang viral itu.
Deputi sekjen melakukan pengundian, yang ternyata dalam tanda kutip terlihat main-main.
Apa yang terjadi di drawing, modus operandinya orang-orang yang terlibat itu hampir sama dengan ketika waktu pemilihan wakil ketua umum.
Baca juga: Indonesia Siap Gelar AVC Men’s Champions League 2026 di Pontianak, Momentum Kebangkitan Voli Asia
Ini pintu masuk lagi untuk mengungkap bobroknya sepak bola indonesia.
Kalau mau serius, ungkap itu. Kenapa bisa drawingnya seperti itu? Siapa yang ada di balik drawing itu?
Erick kembali diberi pintu, jelang berakhirnya Liga 1 2024/2025 ini. Ada banyak yang janggal di pertandingan-pertandingan.
Kemarin kita lihat pertandingan Bali United dengan PSIS Semarang. Ada dua gol bunuh diri pemain PSIS Semarang.
Lalu pertandingan PSS Sleman lawan PSM Makassar. Gol ketiga PSS Sleman itu jelas bermula dari sebuah pelanggaran.
Sebenarnya ada banyak gambaran, banyak contoh yang bisa diungkap dan ditelusuri. Ada nggak mafia sepak bola Indonesia? Kalau saya bilang, ada.
Sekarang tinggal kembali kepada Erick Thohir.
Sudahi Gimmicknya Pak. Serius, lakukan aksi kalau memang Anda mau bersih-bersih sepak bola Indonesia.
Kolom ini ditulis oleh Miftahul Fahamsyah
Editor : Narendra Bakrie
