Anggota Komisi D DPRD Surabaya dengar pendapat dengan Kadis Kesehatan dan kepala Puskesmas se-Surabaya. (Bejo/mili.id)
Surabaya, mili.id - Janji layanan kesehatan Puskesmas 24 jam di Surabaya ternyata hanya omong kosong. Fakta ini terungkap setelah Komisi D DPRD Kota Surabaya melakukan inspeksi mendadak (sidak), Rabu (26/02/2025) malam, mendapati tiga puskesmas 24 jam, sudah tutup sebelum pukul 12 malam.
Hal itu diungkapkan oleh Anggota Komisi D, Imam Syafi’i, saat hearing dengan Kepala Dinas Kesehatan dan seluruh kepala Puskesmas se-Surabaya, Kamis (27/02/2025).
Baca juga: ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya Hadirkan "Fraktal", Pameran yang Mengajak Menyelami Bentuk dan Warna
Imam mengungkapkan bahwa saat sidak, beberapa puskesmas bahkan sudah mengunci pagar dan mematikan lampu sejak pukul 23.00. Padahal, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina, sebelumnya menegaskan bahwa seluruh puskesmas di Surabaya beroperasi penuh selama 24 jam, meskipun tanpa kehadiran dokter yang standby.
Selain itu, Imam menambahkan, dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPRD beberapa waktu lalu, Nanik mengklaim bahwa pelayanan kesehatan di 63 puskesmas dioptimalkan sesuai standar. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan ketidaksiapan fasilitas dan tenaga medis.
Imam juga mengungkapkan, di Puskesmas Sidotopo Wetan yang disebut-sebut sebagai puskesmas terbaik di Surabaya pelayanan sangat minim.
Bahkan, sopir ambulans terpaksa merangkap sebagai petugas penerima pasien. Di ruang Unit Gawat Darurat (UGD), ditemukan tabung oksigen yang dibiarkan terbuka dan tidak tersedia masker oksigen.
Baca juga: Polrestabes Surabaya Amankan 192 Pelaku Kejahatan Jalanan dalam Dua Bulan Operasi
Keadaan lebih buruk ditemukan di Puskesmas Peneleh. Imam dan timnya harus mengetuk pagar berkali-kali sebelum akhirnya dibuka oleh petugas. “Kalau memang niat buka 24 jam, kenapa pintu harus digembok,” tanya Imam.
Tak hanya itu, di Puskesmas Ketabang yang baru direnovasi dengan anggaran Rp 5 miliar pagar juga terkunci rapat dan dokter jaga tidak ada di tempat.
“Katanya dokter on call, tapi kalau 24 jam harusnya ada dokter yang standby,” tegas Imam.
Baca juga: Kejari Surabaya Tangkap Ibu-Anak Buron Korupsi Rp4,75 Miliar, Buron Empat Tahun
Berdasarkan temuan ini, Imam menyimpulkan bahwa puskesmas di Surabaya belum siap menjalankan layanan 24 jam. Selain kekurangan SDM, fasilitas dan obat-obatan juga tidak memadai.
“Kalau tidak siap 24 jam, jangan hanya pencitraan. Kalau memang butuh tambahan tenaga medis atau obat, ya harus disampaikan, bukan malah membohongi publik,” tegasnya.
Sidak Puskesmas 24 Jam ini dilakukan untuk memastikan kesiapan puskesmas dalam menangani pasien setelah BPJS Kesehatan mengalihkan 144 jenis penyakit agar cukup ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Editor : Aris S
