Agung Saputro (33) dan tikus putih yang diternaknya. (Nana/mili.id)
Mojokerto, mili.id - Umumnya hewan pengerat seperti tikus menjadi momok bagi masyarakat, bahkan musuh besar petani. Tapi tidak ditangan Agung Saputro (33).
Pria asal Dusun Banyuurip, Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Mojokerto ini malah membudidayakan hewan pengerat yang dianggap sebagian orang sebagai hama tanaman.
Yah, tikus yang dibudidayakan Agung bukan tikus sembarang tikus, melainkan tikus jenis-jenis tertentu seperti tikus Mencit (Mus musculus) Rattus norvegicus hingga jenis Long Evas.
Agung mengawali usaha budidaya tikus ini karena membaca peluang usaha. Ada permintaan tikus dengan spesies tertentu yang digunakan untuk pakan hewan reptil dan burung hantu.
"Awal mula berawal dari kesulitan pakan teman-teman pecinta reptil sama burung hantu di Kota Mojokerto," katanya, Sabtu (22/2/2024).
Peluang itu benar-benar dimanfaatkan oleh Agung lantaran permintaan tikus untuk pakan hewan cukup banyak di Mojokerto, sementara di Mojokerto belum ada pembudidaya.
"Awalnya itu teman-teman mencari di Kota lain soalnya di Mojokerto belum ada yang ternak. Jadi, terus saya berinisiatif berternak tikus putih ini," lanjutnya.
Ia mengawali ternak tikusnya sejak tahun 2017 lalu. Awalnya hanya jenis tikus kecil saja yang dibudidayakan. Lama-lama permintaan tikus meningkat bahkan untuk penelitian kampus-kampus kedokteran hewan.
Waktu itu, Agung hanya bermodal Rp 150 ribu untuk beli bibit tikus di Malang dan ia mengawali budidaya dari 50 ekor.
8 tahun berlalu, saat ini Agung sudah mempunyai ratusan ekor dan bisa memanen tikusnya seminggu sekali.
"Sekarang sudah sekitar 150 indukan, kalau ajakannya sekitar 300 ekor untuk saat ini," ujarnya.
Harganya sangat variatif, mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 50 ribu per ekornya. Penjualan Agung dilakukan secara online, pelanggannya hingga sampai keluar Pulau Jawa.
Omzet dalam satu bulan tembus sekitar Rp 3 sampai 4 juta. Pengiriman dilakukan satu minggu sekali, dalam sekali panen ia bisa menjual sekitar 300 ekor.
"Dijual ke paling banyak ke Surabaya, Lamongan, paling jauh ke Palangkaraya Kalimantan itu," terangnya.
"Ke Kalimantan dan Jakarta ini untuk penelitian di kampus kedokteran, kalau yang dekat sini ke pet shop untuk peternak ular pecinta reptil itu," sambung dia.
Menurut Agung, budidaya tikus bukanlah hal yang sulit. Selain perawatannya mudah makanan juga mudah didapatkan.
"Perawatannya simpel, dikasih makan sehari sekali ganti alas seminggu sekali, makannya pur ayam sama sayuran kadang mbah buah dari pasar," kata dia.
Agung menjelaskan, proses perawatan saat tikus melahirkan juga tidak susah. Mulai tikus hamil sampai panen membutuhkan waktu sekitar satu bulan,
"Satu kali lahiran 10 sampai 14 ekor, paling sedikit 6 ekor," lanjutnya.
Menurut Agung, tikus siap panen biasanya usia 1 bulan. Namun terkadang ada juga yang memesan anakan tikus untuk umpan pancing sekitar usia semingguan.
"Kalau untuk reptil permintaannya usia 1 bulan keatas, kalau yang untuk penelitian biasanya usia diatas 3 bulan," pungkasnya.
Baca juga: BULOG Mojokerto Salurkan 810 Ribu Liter MinyaKita, Jaga Harga Tetap Stabil di Tiga Daerah
Editor : Achmad S
