Ilustrasi (Image by Freepik)
Surabaya, mili.id - Pemuda di Surabaya mengaku menjadi korban penipuan bermodus like video, hingga uang Rp11,8 juta miliknya raib.
Pemuda itu bernama Riehan. Uang tabungan Rp11,8 juta yang disimpan dalam ATM lenyap pada akhir 2024 lalu.
Baca juga: Kejari Surabaya Tangkap Ibu-Anak Buron Korupsi Rp4,75 Miliar, Buron Empat Tahun
Kasus bermula pada 13 November 2024. Riehan tiba-tiba ditelepon seorang perempuan dan menawarkan pekerjaan dalam jaringan (daring) yang bisa dikerjakan lewat ponsel.
Dalam percakapan via telepon itu, pelaku menjelaskan kerjanya cukup mudah, yaitu hanya memberikan like (menyukai) video yang dikirim pelaku lewat sebuah link di aplikasi Telegram.
Tugas Riehan hanya menyukai 6-7 video dalam sehari dengan komisi Rp100 ribu. Korban yang tergiur akhirnya mengiyakan tawaran tersebut. Setelah itu, ia dimasukkan dalam sebuah grup di Telegram.
"Setelah sepakat, saya dimasukkan ke dalam grup telegram dengan anggota sekitar 100 anggota. Disana, saya diberi link video tentang strategi marketing affiliate," tutur Riehan, Senin (13/1/2025).
Setelah menyukai video yang dikirim pelaku lewat link dalam grup tersebut, Riehan diminta untuk memberikan foto tangkapan layar sebagai bukti bila ia telah melakukan pekerjaannya.
"Saya kerjakan dan memang mendapat (komisi) Rp100 ribu," tambahnya.
Setelah selesai mengerjakan tugas pertama, Riehan lalu diajak gabung di grup WhatsApp (WA) yang lebih khusus yang beranggotakan hanya 5 orang.
Admin grup itu mengaku bernama Intan Permatasari dengan nomor 082211737016. Dalam grup WA itu, pelaku menawarkan pekerjaan sama dengan komisi lebih besar.
Namun, pelaku memberikan syarat berkedok investasi yang harus dipenuhi oleh Riehan, yaitu mentransfer uang sebesar Rp500 ribu di rekening atas nama Asep Maulana.
Baca juga: Gerak Cepat Pemkot Surabaya Sidak Gion Spa, Management Kooperatif
Semula, ia mendapat komisi dari deposit Rp500 ribu itu bisa ditarik tunai. Riehan semakin yakin bila pekerjaan ini tidak menipu.
"Jadi saya dapat Rp200 ribu. Saya saat itu yakin kalau kerjaan ini aman dan real," jelasnya.
Selanjutnya, korban diberi misi baru dengan investasi yang lebih besar senilai Rp3 juta. Riehan yang sudah terlanjur yakin ini kemudian mentransfer uang sebesar itu ke rekening yang sama.
Tiba-tiba, beberapa tugas yang dikerjakan Riehan, oleh pelaku dinyatakan gagal. Korban diancam uang deposit sekaligus komisi tidak bisa ditarik.
Supaya uang bisa kembali, korban diminta mengulang tugas. Syaratnya harus menyetorkan dana sebesar Rp8 juta.
"Uang tabungan sejak SMA lalu dipakai. Setelah menyelesaikan tugas, admin kembali meminta transfer Rp8 juta lagi agar semua uangnya bisa ditarik," terangnya.
Baca juga: Cegah Jukir Tidak Resmi, Dishub Surabaya Tempel Foto Petugas di 819 Titik Parkir
Korban mengaku saat itu masih percaya dan yakin. Bahkan ia berusaha meminjam uang ke ibunya karena uang tabungannya di ATM itu sudah habis terkuras oleh pelaku.
"Tapi mama sudah curiga, setelah riwayat chat diperiksa, saya baru sadar itu penipuan. Total uang yang hilang Rp11,8 juta," bebernya.
Tersadar jadi korban penipuan setelah uang belasan juta raib, Riehan kemudian mendatangi sebuah bank untuk mengecek pemilik nomor rekening yang ditransfer.
Menurut Riehan, pihak bank tidak memberi informasi di mana tempat tinggalnya karena alasan privasi. Pihak bank hanya menjelaskan biasanya komplotan penipu memang sengaja menyuruh orang membuat rekening.
Tak puas dengan jawaban pihak bank, Riehan kemudian mendatangi SPKT Polrestabes Surabaya, untuk melaporkan peristiwa itu.
Editor : Narendra Bakrie
