20 Tahun Lalu Pesawat Lion Air Tergelincir di Solo, Puluhan Penumpang Tewas

20 Tahun Lalu Pesawat Lion Air Tergelincir di Solo, Puluhan Penumpang Tewas © mili.id

Pesawat Lion Air yang tergelincir. (Istimewa)

mili.id - Tepat pada 30 November 2004 atau 20 tahun yang lalu terjadi peristiwa mengerikan dalam dunia penerbangan di Indonesia. Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-538 tergelincir di Bandar Udara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah.

Pesawat jurusan Jakarta-Solo ini mengangkut 156 penumpang. Atas insiden tersebut, 26 penumpang dilaporkan tewas seketika dan 61 lainnya menderita luka-luka.

Baca juga: Joglosemarkerto Jadi Nadi Baru Mobilitas Jawa Tengah–DIY

Kronologi Pesawat Lion Air JT-538 Tergelincir

Pada Selasa (30/11/2004) kala itu sekitar pukul 18.15 WIB, kondisi cuaca di daerah tersebut sedang buruk. Pesawat yang hendak mendarat itu tiba-tiba tidak dapat dikendalikan oleh Pilot Dwi M dan Kopilot Steven L.

Pesawat kemudian menabrak pagar di ujung landasan dan jatuh di sebuah pemakaman penduduk di Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak. Akibatnya, badan pesawat tersebut terbelah jadi dua bagian. Badan bagian tengah posisi bawah hingga depan juga hancur.

Terkait penyebab kecelakaan pesawat tersebut, pejabat saat itu, Kepala Cabang PT (Persero) Angkasa Pura I Bandara Adi Sumarmo Andri Iskandri memperkirakan, pesawat itu tidak jatuh.

Ia menyebut pesawat sulit mendarat lalu keluar dari landasan hingga menghantam makam. Saat pesawat berhenti, kedua mesin pesawat masih hidup tetapi seluruh panel di kokpit pesawat hancur.

Sementara, menurut Direktur Utama Lion Air saat itu, Rusdi Kirana, pesawat yang mengalami kecelakaan di Bandara Adi Sumarmo tersebut dalam kondisi layak terbang. 

Menurut dia, kecelakaan tersebut karena faktor cuaca yang buruk saat pesawat dalam posisi mendarat. Rusdi mengatakan, pesawat sudah dalam posisi yang tepat untuk pendaratan.

Namun, angin yang bertiup cukup kencang dari arah belakang pesawat, yang menyebabkan pesawat terus terdorong dan meluncur bebas keluar sekitar 100 meter dari landasan pacu karena pengereman yang kurang maksimal. 

Baca juga: Sidang Ijazah Jokowi: Ahli Dorong Verifikasi Terbuka untuk Akhiri Polemik Publik

Informasi lain menyebut bahwa pesawat mendarat dalam cuaca badai petir. Diduga, pesawat tidak dapat menyentuh landasan dengan mulus, tetapi terpental hingga ujung landasan karena ada genangan air yang disebut hydro planning di landasan.

8 Rumah Sakit Jadi Tempat Evakuasi Para Korban

Para korban yang terdiri dari penumpang dan kru pesawat ini langsung dibawa ke delapan rumah sakit, antara lain RS TNI AU, RS PKU Muhammadiyah, RS Dr Oen di Kandangsapi dan Solo Baru, RS Yarsis, RS Kasih Ibu, RS Islam Al Amin, serta RS Kustati.

Evakuasi dilakukan mulai pukul 18.20 WIB. Hujan membuat kondisi lokasi kecelakaan menjadi becek tergenang air bercampur minyak avtur yang bocor dari tangki bahan bakar pesawat.

Seluruh akses ke bandara saat itu ditutup total, dan hanya ambulans yang diperbolehkan mengakses untuk menuju area kecelakaan. Dalam evakuasi tersebut, warga turut membantu menggandeng penumpang yang luka dan masih bisa berjalan ke tepi jalan. 

Baca juga: Jokowi Jalani Pemeriksaan Tambahan di Polresta Solo Terkait Laporan Dugaan Fitnah Ijazah

Sementara itu, jarak landasan dengan lokasi kecelakaan adalah sekitar 500 meter, yang dihubungkan jalan setapak dari jalan di bawah landasan pacu.

Korban tewas kebanyakan karena luka akibat tubuh mereka terjepit kursi dan patahan besi pesawat. Sementara, penumpang yang terluka banyak mengalami patah kaki.

Kebanyakan korban dievakuasi ke RS Yarsis, terdiri atas 29 korban luka-luka dan 14 orang meninggal dunia. Sebagian besar para korban adalah peserta yang akan ikut Muktamar ke-31 Nahdlatul Ulama di Donohudan, Boyolali, yang tidak jauh dari lokasi kecelakaan.

Atas insiden ini, salah satu tokoh yang tewas ialah KH Yusuf Muhammad, mantan Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI, yang merupakan satu dari puluhan rombongan untuk menghadiri Muktamar NU ke-31.

Editor : Achmad S



Berita Terkait