29 November, 79 Tahun Lalu Ratusan Pemuda Selayar Ambil Alih Kekuasaan dari Belanda

29 November, 79 Tahun Lalu Ratusan Pemuda Selayar Ambil Alih Kekuasaan dari Belanda © mili.id

Ilustrasi

mili.id - Tepat pada 29 November 1945 atau 79 tahun silam, ratusan pemuda Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda, yang telah menjadi pemerintah di kepulauan tersebut sejak tahun 1739.

Pada masa lalu, Kabupaten Kepulauan Selayar pernah menjadi rute dagang menuju pusat rempah-rempah di Maluku. Di Pulau Selayar, para pedagang singgah untuk mengisi perbekalan sambil menunggu musim yang baik untuk berlayar. 

Dari aktivitas pelayaran ini pula muncul nama Selayar yang berasal dari kata cedaya (Bahasa Sanskerta) berarti satu layar. Konon kaka itu banyak perahu satu layar yang singgah di pulau ini. 

Kata cedaya telah diabadikan namanya dalam Kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca pada abad 14. Ditulis bahwa pada pertengahan abad 14, ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara.

Selayar digolongkan dalam Nusantara, yaitu pulau-pulau lain di luar Jawa yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Ini berarti bahwa armada Gajah Mada atau Laksamana Nala pernah singgah di pulau ini.

Selain nama Selayar, pulau ini dinamakan dengan nama Tana Doang yang berarti tanah tempat berdoa. Di masa lalu, Pulau Selayar menjadi tempat berdoa bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan baik ke barat maupun ke timur untuk keselamatan pelayaran mereka. 

Dalam kitab hukum pelayaran dan perdagangan Amanna Gappa (abad 17), Selayar disebut sebagai salah satu daerah tujuan niaga karena letaknya yang strategis sebagai tempat transit untuk pelayaran menuju ke timur dan ke barat. 

Disebutkan dalam naskah itu bahwa bagi orang yang berlayar dari Makassar ke Selayar, Malaka, dan Johor, sewanya 6 rial dari tiap seratus orang.

Belanda mulai memerintah Selayar pada tahun 1739. Selayar ditetapkan sebagai sebuah keresidenan dimana residen pertamanya adalah W. Coutsier (menjabat dari 1739-1743). 

Berturut-turut kemudian, Selayar diperintah oleh orang Belanda sebanyak 87 residen atau yang setara dengan residen seperti Asisten Resident, Gesagherbber, WD Resident, atau Controleur. 

Barulah Kepala pemerintahan ke 88 dijabat oleh orang Selayar, yakni Moehammad Oepoe Patta Boendoe. Saat itu telah masuk penjajahan Jepang sehingga jabatan residen telah berganti menjadi Guntjo Sodai, pada tahun 1942. 

Di zaman Kolonial Belanda, jabatan pemerintahan di bawah keresidenan adalah Reganschappen. Reganschappen saat itu adalah wilayah setingkat kecamatan yang dikepalai oleh pribumi bergelar "Opu". 

Pada tanggal 29 November1945 (19 Hari setelah Insiden Hotel Yamato di Surabaya) sekitar pukul 06.45 sekumpulan pemuda dari beberapa kelompok dengan jumlah sekitar 200 orang, yang dipimpin oleh seorang pemuda bekas Heiho bernama Rauf Rahman memasuki kantor polisi kolonial (sekarang kantor PD. Berdikari). 

Para pemuda ini mengambil alih kekuasaan dari tangan Belanda yang di kemudian tanggal ini dijadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar. Tanggal tersebut juga merupakan masuknya Islam di Kabupaten Kepulauan Selayar.

Hal itu ditandai dengan masuk Islamnya Raja Gantarang, Pangali Patta Radja, yang kemudian bernama Sultan Alauddin, pemberian Datuk Ribandang. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1605, sehingga ditetapkan Hari Jadi Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 29 November 1605.

Baca juga: Komnas HAM Turun Langsung ke Tual, Dalami Kasus Dugaan Penganiayaan Pelajar oleh Oknum Brimob

Editor : Achmad S



Berita Terkait