Mengenang Cut Nyak Meutia, Pahlawan Aceh yang Gugur Ditangan Belanda

Mengenang Cut Nyak Meutia, Pahlawan Aceh yang Gugur Ditangan Belanda © mili.id

Cut Nyak Meutia (istimewa)

Mili.id - Tepat pada 24 Oktober 1910 atau 114 tahun yang lalu pahlawan asal Aceh, Cut Nyak Meutia atau Cut Meutia gugur ditangan kompeni Belanda, yang sedang menduduki tanah kelahirannya.

Perempuan kelahiran Pirak, Aceh Utara, 15 Februari 1870 ini merupakan anak dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dengan Cut Jah.

Baca juga: Pangkormar Kirim 1.000 Pasang Sepatu untuk Anak-Anak Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

Dia merupakan anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara.

Sejak kecil, ia sudah dididik untuk memahami soal agama dan ilmu berpedang. Ketika dewasa, ia menikah sebanyak tiga kali, suami pertamanya ialah Teuku Syamsarif atau yang dikenal Teuku Chik Bintara.

Lalu, suami keduanya bernama Teuku Chik Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Dengan suami keduanya inilah ia bersama-sama melawan penjajahan Belanda.

Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan ditembak mati di tepi pantai Lhokseumawe.

Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe.

Akhirnya, perjuangan dengan suami ketiganya ini dilanjutkan. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan.

Pang Nagroe terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.

Mengetahui hal tersebut, Cut Meutia bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukannya.

Kala itu, pasukan Cut Meutia tinggal 45 orang dan 13 senjata. Dengan semangat yang membara, Cut Meutia nekat menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melintasi hutan belantara.

Ketika di daerah Paya Cicem pada 24 Oktober 1910, persembunyian pasukan Cut Meutia terendus oleh pihak Belanda.

Baca juga: Di Balik Lumpur Banjir Pidie Jaya, Semangat Belajar Anak-anak Tak Pernah Padam

Pasukan penjajah itu kemudian melakukan penyergapan dengan pasukan yang lebih banyak dan dibekali menggunakan senjata lengkap.

Pasukan Cut Meutia yang terpojok tak dapat berbuat banyak. Saat itu, Belanda memberikan penawaran terhadap para pejuang Aceh tersebut dengan dua pilihan, antara menyerah atau dieksekusi.

Namun, semangat para pejuang ini bukannya surut ketika dihadapkan dengan dua pilihan itu. Mereka malah melawan tentara Belanda menggunakan Rencong (senjata khas Aceh).

Cut Meutia akhirnya terpaksa menerima 3 butir peluru tajam di bagian kepala dan dada dari pihak Belanda.

Ia gugur dalam pertempuran memperjuangkan tanahnya supaya lepas dari penjajahan.

Jasadnya kemudian dimakankan di Alue Kurieng, Aceh. Semasa hidup, Cut Meutia memang dikenal sebagai ahli pengatur strategi pertempuran.

Baca juga: BNPB Salurkan Bantuan Logistik untuk Warga Huntara Aceh Tamiang

Taktiknya sering kali memporak-porandakan pertahanan militer Belanda.

Salah satu taktik yang pernah ia gunakan adalah taktik serang dan mundur, serta menggunakan prajurit memata-matai gerak gerik pasukan lawan.

Atas jasanya, Ia dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Selain itu, Pemerintah Republik Indonesia pada 19 Desember 2016 juga mengabadikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia, pecahan Rp 1.000.

Namanya juga diabadikan di beberapa tempat, diantaranya Rumah Sakit Umum Daerah Cut Meutia, Aceh Utara; Museum Rumah Cut Meutia, Aceh Utara.

Lalu Masjid Cut Meutia, Jakarta Pusat; Taman Cut Meutia, Bekasi, Jawa Barat, dan digunakan sebagai beberapa nama jalan di Indonesia.

Editor : Aris S



Berita Terkait