Mengenang Gempa Bumi Palu-Donggala 22 September 2018, 6 Tahun Lalu

Mengenang Gempa Bumi Palu-Donggala 22 September 2018, 6 Tahun Lalu © mili.id

Pusat gempa 7,7 SR di Kabupaten Donggala yang terjadi pada 28 September 2018, hari ini enam tahun lalu (BMKG)

mili.id - Enam tahun yang lalu, tepat pada tanggal 28 September 2018, gempa berkekuatan 7,7 skala richter (SR) mengguncang Kota Palu - Donggala, Sulawesi Tengah, dan disusul tsunami setinggi kurang lebih 6 meter.

Bencana itu semakin mengerikan tatkala kontur tanah yang padat, mendadak mengalami likuifaksi (pencairan tanah) yang menyebabkan ribuan bangunan dan orang terkubur hidup-hidup.

Baca juga: Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Pangandaran Saat Subuh, Getaran Terasa hingga Garut dan Tasikmalaya

(Kronologi Gempa Kota Palu-Donggala, Sulawesi Tengah)

Pada Jumat di tanggal tersebut, Kota Palu dan sekitarnya memang sudah diguncang gempa sejak siang hari. Pada pukul 13.59 WITA, gempa berkekuatan 6 SR sudah dirasakan oleh warga sekitar.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) langsung mengeluarkan peringatan dini bahaya tsunami dengan level siaga.

Kemudian pada pukul 17.02 WITA, terjadi gempa 7,7 SR yang berpusat di 26 kilometer utara Kabupaten Donggala dan 80 kilometer barat laut Kota Palu, dengan kedalaman 10 kilometer.

Saat itu, BMKG memberikan estimasi akan terjadi gelombang besar dengan ketinggian mulai dari 0,58 - 3 meter pada pukul 17.22 WIB.

Namun, BMKG melakukan pemutakhiran data dan mencabut peringatan dini tsunami pada pukul 17.36 WIB, karena tenggat waktu estimasi awal telah terlewati.

Nahas, usai peringatan dini tsunami itu dicabut, gelombang setinggi 6 meter datang menerjang Kota Palu yang kemudian banyak memakan korban jiwa karena warga tidak siap untuk menyelamatkan diri.

(Likuifaksi Memperparah Keadaan)

Kejadian yang begitu cepat membuat banyak masyarakat tidak punya banyak waktu untuk menyelamatkan diri dari terjangan ombak.

Selain itu, banyak juga orang yang tidak mengetahui peringatan tsunami dikarenakan jaringan komunikasi yang saat itu putus akibat guncangan gempa sebelumnya.

Baca juga: Gempa Beruntun Terjadi di Jabar, BMKG Catat Magnitudo 2,1 hingga 3,9

Setelah gempa dan tsunami, Palu kembali menghadapi fenomena alam yaitu likuifaksi. Guncangan yang ditimbulkan gempa menyebabkan tanah kehilangan ikatan.

Hal tersebut mengakibatkan tanah larut seperti air lalu mengalir, membawa bangunan, kendaraan, dan orang-orang yang berada di atasnya.

Likuifaksi berlangsung pada tanah berpasir yang mudah terendam air, seperti tanah di Kota Palu yang dekat dengan laut.

Menurut laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gempa di Palu terjadi dikarenakan aktivitas sesar Palu-Koro.

Wilayah sekitar pusat gempa pada umumnya disusun oleh batuan berumur pra Tersier, Tersier dan Kuarter. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi saat itu adalah Kabupaten Donggala dan Kota Palu,

Dua wilayah tersebut pada umumnya tersusun oleh batuan malihan berumur Pra Tersier. Batuan itu membentuk lajur sesar dengan lereng curam dan kebanyakan lapuk, batuan sedimen, gunung api, batuan beku dan malihan berumur Tersier hingga Kuarter.

Baca juga: Adonara Diguncang Gempa, Puluhan Rumah Warga Mengalami Kerusakan

Goncangan gempa yang begitu dahsyat akan terasa pada batuan lepas dan lapuk, sehingga kontur tanah atas yang awalnya padat, itu lebih rentan karena tanah yang di bawah telah larut.

(Jumlah Korban dan Bangunan Rusak Akibat Gempa)

Korban jiwa akibat gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu mencapai 4.340 jiwa, yang tersebar di Kota Palu 2.141 orang, Kabupaten Sigi 289 orang, Donggala 212 orang, Parigi Moutong 15 orang, 1.016 korban jiwa tak teridentifikasi, serta 667 orang dilaporkan hilang.

Sementara bangunan dengan kerusakan ringan di Kota Palu tercatat 17.293, rusak sedang 12.717 dan rusak berat 9.181, dan terdapat 3.673 rumah yang dilaporkan hilang.

Sedangkan, di Kabupaten Donggala, jumlah bangunan yang mengalami kerusakan ringan sebanyak 7.989, rusak sedang 6.099 dan rusak berat 7.215 serta 75 rumah dilaporkan hilang.

Saat itu, kurang lebih 70.000 warga yang selamat daei gempa mengerikan ini dievakuasi ke 147 posko pengungsian yang tersebar di wilayah di Sulawesi Tengah.

Editor : Achmad S



Berita Terkait