27 Juni, 428 Tahun Lalu Kapal Belanda Tiba di Banten

27 Juni, 428 Tahun Lalu Kapal Belanda Tiba di Banten © mili.id

Ilustrasi/Ist

mili.id - Pada tanggal ini, 27 Juni 428 tahun yang lalu, sebuah armada kapal Belanda yang saat itu dipimpin oleh Cornelis de Houtman tiba di Banten, tepatnya melalui Pelabuhan Karangantu.

Kedatangan 297 awak kapal yang dipimpin Houtman itu mendarat setelah 14 bulan terombang-ambing di lautan dalam rangka ekspedisi penjelajahan samudera ke dunia timur.

Baca juga: Jejak “Universitas Kuno” Nusantara: Sriwijaya Disebut Pusat Pendidikan Dunia Jauh Sebelum Oxford Berdiri

Kedatangan orang Belanda ini awalnya disambut hangat oleh Kasultanan Banten yang saat itu dipimpin Sultan Abdul Mafakhir dan masyarakat setempat. Sebab, kala itu kedatangan Houtman hanya berkonsentrasi pada perdagangan saja.

Situasi saat itu di Pelabuhan Karangantu telah dibangun kemegahan pelabuhan dan toko yang sudah banyak berdiri, pasar, hingga gudang. Kasultanan Banten memfungsikan pelabuhan tersebut sebagai pasar dengan lada sebagai komoditas utamanya.

Belanda di sana rupanya tidak sendirian, total ada kirang lebih 36 kapal asing yang telah bersandar di Pelabuhan Karangantu seperti Arab, Gujarat, China, Portugis dan Persia.

Satu bulan berlalu, Houtman dan kawan-kawan belum berulah Banten. Kondisi serupa berjalan hingga bulan ketiga. Namun pada bulan keempat, gejolak terjadi. Sikap Houtman dianggap mengganggu politik dagang yang sudah sangat mapan.

Belanda mulai mendirikan kantor dagang. Atas perlakuan itu, Belanda dipaksa angkat kaki dari Banten oleh Sultan Abdul Mafakhir. Namun, penolakan yang ditunjukkan oleh masyarakat Banten juga tidak lepas dari hasutan para pedagang Portugis.

Sejak mendarat di Banten, bangsa Belanda sering terlibat konflik dengan Portugis. Portugis yang lebih dulu datang, akhirnya menghasut masyarakat setempat. Setelah diusir dari Banten, Houtman membawa rombongannya menyusuri pantai utara Jawa.

Baca juga: Museum Nasional Rayakan HUT ke-248 Lewat Pameran Lampu dan Numismatik

Pada 1957, mereka kembali ke Belanda dengan rombongan yang tidak lagi utuh. Namun, di sisi lain, mereka berhasil membawa banyak rempah-rempah untuk menunjukkan keberhasilan mereka pada negaranya.

Ekspedisi Kedua

Pada 1598, Belanda kembali mendarat di Banten dengan ekspedisi yang dipimpin oleh Jacob van Neck. Dalam perjalanannya, Jacob van Neck dibantu oleh van Waerwijck dan van Heemskerck.

Kedatangan Belanda ke Indonesia yang kedua ini berusaha memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh ekspedisi Cornelis de Houtman. Mereka bersikap lebih ramah dan menghargai masyarakat Banten.

Baca juga: Kasus Penumpang Tewas akibat Kecelakaan Ojek Berakhir Tanpa Persidangan!!!

Selain itu, rombongan kedua ini memberi cendera mata berupa tempat minum dari emas murni kepada penguasa Banten. Berbekal kepandaian mereka dalam berdiplomasi, rombongan Jacob van Neck diterima dengan baik oleh masyarakat Banten.

Hubungan baik tersebut semakin terlihat saat Banten mengizinkan Belanda mendirikan kator dagang atau loji setelah memberikan jaminan sejumlah uang. Sehingga pada 1602, di Banten telah terdapat empat loji milik Belanda.

Di sisi lain, kehadiran bangsa Belanda juga membawa banyak pengaruh terhadap Kasultanan Banten. Bahkan pada periode ini mulai terjadi pertentangan di antara keluarga kerajaan yang saling berbeda kepentingan.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait