Fatmawati Soekarno bersama kelima anaknya (istimewa)
Surabaya, mili.id - Tepat pada 5 Februari 1923 atau 102 tahun yang lalu, penjahit Sang Saka Merah Putih untuk upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Fatmawati Soekarno, yang merupakan isteri ketiga Presiden Pertama RI Soekarno, dilahirkan di Pesisir Pantai Tapak Paderi, Bengkulu.
Fatmawati lahir dari kedua orangtua yang merupakan Suku Minangkabau, dari Sumatera Barat, Hasan Din dan Siti Chadijah. Orang tuanya merupakan keturunan Putri Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan salah seorang pengusaha dan tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.
Baca juga: Khofifah dan 7200 Siswa-Guru SMA/SMK/SLB Jatim Menjahit Bendera Merah Putih Serentak
Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Soekarno, yang merupakan presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.
Kisah Fatmawati Menjahit Sang Saka Merah-Putih
Setahun setelah pernikahannya dengan Bung Karno, Jepang menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia. Bendera Merah-Putih juga boleh dikibarkan dan lagu Kebangsaan Indonesia Raya diizinkan berkumandang.
Ibu negara ini kemudian berfikir bahwa memerlukan bendera Merah Putih untuk dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Pada waktu itu tidak mudah untuk mendapatkan kain merah dan putih di luar.
Sebab, barang-barang bekas impor semuanya masih berada di tangan Jepang, dan kalaupun ada di luar, untuk mendapatkannya harus dengan "berbisik-bisik" supaya tak diketahui pihak penjajah kala itu.
Baca juga: Jangan Biarkan Algoritma & Tren Kerdilkan Nasionalisme-Martabat Bendera Merah Putih
Berkat bantuan Shimizu, yang merupakan orang kepercayaan Pemerintah Jepang sebagai perantara dalam perundingan Jepang-Indonesia, Ibu Fatmawati akhirnya mendapatkan kain merah putih.
Belakangan diketahui Shimizu mengusahakannya lewat seorang pembesar Jepang, yang memimpin gudang di Pintu Air, di depan eks Bioskop Capitol. Bendera itulah yang berkibar di Pegangsaan Timur saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Ibu Fatmawati menghabiskan waktunya untuk menjahit bendera itu dalam kondisi fisiknya cukup rentan. Pasalnya, ia saat itu sedang hamil tua dan sudah waktunya untuk melahirkan putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra.
Tak jarang ia menitikkan air mata kala menjahit bendera itu menjelang kelahiran Guntur, ketika usia kandungan telah mencukupi bulannya, ia tetap memaksakan diri menjahit bendera Merah-Putih. Kain disambung menggunakan mesin jahit Singer yang dijalankan dengan tangan saja hingga menjadi bendera.
Baca juga: Sambut HUT RI ke-80, Brimob Polda Jatim Bagikan Bendera Merah Putih pada Pengendara
Karena hamil tua dan sudah waktunya melakukan persalinan, sebetulnya dokter sudah melarangnya menggerakkan kaki berlebihan untuk menjalankan mesin jahit. Namun, larangan dokter itu ia langgar atas nama bangsa dan negara.
Pada tanggal 14 Mei 1980, ia meninggal dunia di Kuala Lumpur, Malaysia dalam usia 57 tahun, karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekkah.
Jasad Pahlawan Nasional yang ditetapkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 4 November 2000 ini kemudian dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.
Editor : Aris S
