Seorang petani tembakau berada di areal pertaniannya di Desa Grujugan Lor, Kecamatan Jambesari Darusollah, Bondowoso, Jumat (19/7/2024). (Deni AW/Mili.id)
Bondowoso - Jumlah produksi tembakau di Kabupaten Bondowoso tahun 2023 tembus dua kali lipat dari estimasi kebutuhan pabrikan lokal.
Baca juga: Jumat Berkah Berbagi Polres Bondowoso, 500 Nasi Kotak Dibagikan kepada Jamaah Usai Salat Jumat
Hal ini dinyatakan oleh Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Ahmad Yasid kepada Mili.id, Jumat (19/7/2024).
"Dinas sudah mensosialisasikan estimasi kebutuhan pabrikan untuk tembakau kering petani masih sama sebanyak 3.500 ton tahun ini," ungkapnya.
Angka estimasi itu muncul sebelum adanya informasi kebutuhan nyata pabrikan/pengusaha tembakau lokal.
"Tapi walaupun begitu, produksi tembakau kita rata-rata tembus 8.000 - 9.000 ton per tahun," ucap pria yang juga Sekretaris APTI Jawa Timur ini.
Kendati demikian, ia mengaku nyaris 100 persen tembakau kering produksi petani Bondowoso terserap di pasaran.
Baca juga: Hari Bhayangkara ke-80, Kapolres Bondowoso Tebar Kepedulian untuk Purnawira dan Warakawuri
"Tahun lalu serapan pada tembakau kita 97 persen, sisa 3 persen tidak terserap karena melampaui jadwal tanam yang baku," ulas warga Desa Pekalangan, Kecamatan Tenggarang ini.
Di sisi lain, ia memprediksi realisasi areal tanam di Kabupaten Bondowoso tahun ini naik sekitar 20 persen.
"Apalagi harga jual tembakau kasturi sedang mahal. Bisa Rp 60 ribu per kilogram dan rajang Rp 55 ribu per kilogram," sebutnya.
Hal itu menyebabkan petani tembakau Bondowoso mengubah pola tanam dan mengurangi varietas lokal Maesan.
"Tahun ini posisi varietas tembakau yang ditanam petani yaitu 50 persen Maesan dan 50 persen kasturi," sebut Yasid.
Komposisi penananam varietas tembakau tahun 2024 pun berbeda dengan tahun 2023 lalu.
"Tahun sebelumnya itu 70 persen varietas maesan dan 30 persen kasturi," sebut pria yang juga Sekretaris APTI Jawa Timur tersebut.
Editor : Aris S
