Pakar Unair Sebut Paleo Diet Jadi Pilihan Ketika Harga Beras Naik

Pakar Unair Sebut Paleo Diet Jadi Pilihan Ketika Harga Beras Naik © mili.id

Pakar Unair sebut paleo diet jadi pilihan ketika harga beras naik (Foto: Ist)

Surabaya - Kenaikan harga beras telah menjadi topik yang diperbincangkan dalam beberapa waktu terakhir.

Kenaikan harga beras tidak hanya menjadi permasalahan ekonomi, tetapi juga memiliki implikasi mendalam pada konteks sosiologi budaya.

Baca juga: Suroboyo 10K 2026 Dibanjiri Ribuan Pelari, Hotel dan Kuliner Surabaya Ikut Terdongkrak

Sebab, beras sebagai salah satu komoditas pangan utama yang memegang peran sentral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, memiliki makna simbolis dan nilai budaya mendalam.

Pakar Paleoantropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati menyebut, fenomena ini dapat mencerminkan dinamika sosial yang kompleks di masyarakat.

Alih-alih ketergantungan akan bahan pokok beras, menjadi semacam nilai bahwa bila tidak makan beras sama halnya dengan ketidakmampuan ekonomi.

"Beras tampaknya menduduki tingkat paling tinggi dalam urutan bahan pokok karbohidrat. Sehingga jenis penggunaan dan pengelolaan pun mencerminkan kelas sosial," ungkap Prof Koesbardiati tertulis, Rabu (13/3/2024).

Pakar Paleoantropologi FISIP Unair, Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati (Foto: Dok. Unair for mili.id)Pakar Paleoantropologi FISIP Unair, Prof Dr Phil Toetik Koesbardiati (Foto: Dok. Unair for mili.id)

Asal-usul Penyebaran Bahan Pokok di Indonesia

Sejarah domestikasi makanan pokok mencatat bahwa biji-bijian seperti gandum, sorgum, jewawut, dan jagung telah dikenal sejak zaman kuno, dengan kultivasi awal dilakukan oleh masyarakat Mesir dan Mesoamerika.

Baca juga: Remaja Surabaya Tewas Diduga Dikeroyok Usai Perselisihan Sandal Crocs Rp1,5 Juta

Sementara padi, sebagai sumber karbohidrat utama, didomestikasi di mainland Asia, terutama di China, Thailand, dan Vietnam sekitar 10 hingga 11 ribu tahun yang lalu.

Pengaruh dari budaya Austronesia yang menyebar dari Asia Timur, termasuk melalui Taiwan dan Filipina. Dari sini, pengetahuan tentang kultivasi padi menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Masyarakat Austronesia juga membawa pengaruh tanaman karbohidrat lain seperti jagung dan biji-bijian lain. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah terbiasa dengan jenis sumber makanan karbohidrat non beras seperti sagu dan umbi-umbian.

Urgensi dan Kedudukan Beras

Prof Koesbardiati mengungkapkan, konsumsi beras dalam sejarah Indonesia mencerminkan upaya menuju swasembada beras yang sering menjadi fokus pembangunan jangka panjang.

Baca juga: ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya Hadirkan "Fraktal", Pameran yang Mengajak Menyelami Bentuk dan Warna

Meskipun berhasil beberapa kali, pencapaian swasembada tidak berlangsung lama. Beras juga menjadi simbol hubungan sosial, menjadi simpati di masa duka dan kompensasi dalam konteks administrasi negara.

Ketergantungan pada beras menciptakan rasa tidak nyaman jika persediaan berkurang, tercermin dalam ungkapan "mencari sesuap nasi".

Oleh karena itu, kepanikan atas kenaikan harga beras menjadi hal yang dapat dimengerti. Sekalipun kesadaran memanfaatkan bahan pokok alternatif selain beras sudah banyak didengungkan, tapi kesadaran untuk memanfaatkan bahan pokok pengganti beras tampaknya kurang diminati.

"Maka perlu diapresiasi ketika sekelompok etnis menyerukan kembali konsep paleo diet, yaitu mengadaptasi pola makan manusia pada zaman dulu tanpa harus memerlukan beras. Bisa dengan pengelolaan bahan minim lemak, tanpa harus digoreng maupun proses memasak yang lama seperti biji-bijian dan umbi-umbian," paparnya.

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait