Rektor Untag Surabaya Prof Mulyanto Nugroho mengukuhkan almarhum Rendi Dwi Hermawan yang diwakili ibundanya, Tumini (Foto: Untag Surabaya for mili.id)
Surabaya - Ada momen haru saat Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya Prof Mulyanto Nugroho mengukuhkan 1.209 wisudawan dalam rapat senat terbuka ke-128.
Momen haru itu terjadi saat Prof Mulyanto Nugroho meluluskan Rendi Dwi Hermawan, salah satu peserta yang meninggal dunia menjelang wisuda, Minggu (3/3/2024).
Baca juga: Polrestabes Surabaya Amankan 192 Pelaku Kejahatan Jalanan dalam Dua Bulan Operasi
Prof Nugroho mengukuhkan almarhum Rendi yang diwakili ibundanya, Tumini. Dengan membawa foto anaknya, Tumini berjalan memasuki area wisuda dan menghampiri rektor yang berada di atas podium.
"Saya mengucapkan turut berbelasungkawa sekaligus mengucapkan selamat atas kelulusan Ananda Rendi Dwi Hermawan. Semoga arwahnya diterima Allah SWT," ucap Prof Nugroho sambil menahan air matanya.
Tangis Tumini pun pecah saat dirinya hendak turun dari panggung untuk kembali ke tempat duduknya. Bahkan tak sedikit dari tamu undangan turut meneteskan air matanya.
"Air mata ini bukan air mata sedih, tapi air mata bangga, karena semua sudah terlaksana," tutur Tumini.
Tumini, ibunda mendiang Rendi Dwi Hermawan saat prosesi wisuda di Untag Surabaya (Foto: Untag Surabaya for mili.id)
Sementara Ringga, kakak dari Rendi mengaku bangga memiliki adik seperti mendiang. Ia bercerita, sebelum menghembuskan nafas terakhir, adiknya sempat mengatakan jika dirinya ingin mengikuti wisuda.
"Waktu masuk ICU, pesannya, aku ingin wisuda. Waktu masuk UGD pertama juga bilang aku anterin wisuda mbak. Bilang ke masnya juga begitu," ungkap Ringga.
Hal itulah yang membuat Tumini dan Ringga menguatkan diri berangkat dari Jetis, Mojokerto ke kampus Untag Surabaya untuk mengikuti pengukuhan Rendi sebagai Sarjana Teknik Informatika.
"Saya sebagai kakak bangga sekali punya adik Rendi. Semoga kamu tenang di sana ya, dik, ya. Kita sudah wujudkan semua cita-citamu ingin wisuda, walaupun kami di sini penuh dengan air mata tapi ini air mata kebahagiaan," jelas Ringga sembari mengelus foto Rendi.
Baca juga: Kejari Surabaya Tangkap Ibu-Anak Buron Korupsi Rp4,75 Miliar, Buron Empat Tahun
Rendi sendiri dinyatakan meninggal dunia usai divonis gagal ginjal oleh dokter. Ia menghembuskan nafas terakhirnya setelah mendapatkan perawatan intensif dua hari di rumah sakit.
"Terima kasih untuk dosen-dosen Untag yang telah membantu adik saya. Selama ini kalau adik saya ada salah, kami benar-benar mohon maaf sebesar-besarnya," sambung Ringga.
Mendiang Rendi adalah satu dari ribuan yang dikukuhkan sebagai sarjana. Ribuan lulusan itu terdiri dari 1.003 lulusan program sarjana (S1), 125 lulusan program magister (S2), dan 32 lulusan program psikologi profesi, dan 49 lulusan program doktor (S3). Selain itu 17 lulusan di antaranya meraih IPK terbaik dan tiga lulusan meraih karya menarik.
"Dengan bangga Untag Surabaya melepas wisudawan untuk menjadi aset negara yang mampu berkontribusi untuk Indonesia yang didasarkan pada tujuan NKRI, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mencetak patriot Merah Putih yang mampu memberikan kontribusi terbaik bagi Bangsa Indonesia melalui keilmuan masing-masing," sambung Prof Nugroho.
Prof Nugroho mengatakan, Untag Surabaya memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas lulusan. Upaya tersebut telah diwujudkan dengan kontribusi serapan alumni Tahun 2023 ke industri mencapai 95 persen.
Baca juga: Gerak Cepat Pemkot Surabaya Sidak Gion Spa, Management Kooperatif
Berdasarkan data Tracer Study Untag Surabaya pada 2023, ada 2.370 lulusan. Sekitar 95,6 persen lulusan sudah langsung bekerja setelah lulus. Dengan data tersebut, sekitar 54,9 persen lulusan bekerja sesuai dengan program studi (prodi) yang dipilih.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengatakan bahwa banyak capaian yang diraih Untag Surabaya pada awal Tahun 2024, di antaranya akreditasi unggul untuk tiga prodi, yaitu arsitektur, administrasi negara, dan administrasi niaga. Hingga saat ini ada 9 prodi S1 yang terakreditasi unggul.
Selain itu, tahun ini Untag Surabaya juga bersiap menapaki persaingan di kancah internasional dengan melakukan sertifikasi ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA) yang merupakan sertifikasi tingkat ASEAN.
"Semoga hal ini merupakan awal yang baik untuk memajukan dan mengembangkan Untag Surabaya di level internasional," pungkas Prof Nugroho.
Editor : Narendra Bakrie
