Sejarah Valentine, Kisah Perlawanan yang Diromantisasi

Sejarah Valentine, Kisah Perlawanan yang Diromantisasi © mili.id

Ilustrasi (iStock: skynesher)

Mili.id - Masyarakat di beberapa belahan dunia memperingati 14 Februari sebagai Hari Valentine, atau hari kasih sayang.

Umumnya, dalam mengungkapkan hal tersebut, orang-orang memberi hadiah berupa bunga, cokelat, makan malam bahkan liburan bersama orang yang di sayang.

Baca juga: ARTOTEL Hayam Wuruk Surabaya Hadirkan "Fraktal", Pameran yang Mengajak Menyelami Bentuk dan Warna

Namun, ada cerita perlawanan di balik hari kasih sayang tersebut pada zaman dahulu, yang saat ini di romantisasi oleh orang-orang, khususnya para pemuda-pemudi yang sedang jatuh hati.

- Sejarah Valentine

Bermula dari kematian seorang imam dan uskup di Terni, Italia, bernama Santo Valentine atau yang dikenal sebagai Valentinus pada 269 M.

Pada saat itu, St. Valentine dikenal sebagai pendeta yang sangat taat beragama dan selalu senang membantu orang lain. Bahkan, ia juga kerap membantu orang-orang Kristen melarikan diri dari penjara Romawi yang terkenal sangat kejam pada zaman itu.

Sebagai seorang pendeta, St. Valentine mengabdikan dirinya kepada Kaisar Claudius II yang saat itu memerintah Roma.

Akan tetapi, suatu ketika, Kaisar Claudius II mengeluarkan sebuah keputusan bahwa para laki-laki yang masih belum memiliki pasangan harus menjadi bala tentara.

St. Valentine pun sangat menentang keputusan tersebut. Sebab, ia merasa bahwa keputusan itu sangat tidak adil bagi pihak laki-laki. St. Valentine kemudian memberanikan diri melawan keputusan yang dicetus Kaisar Claudius II dengan menikahkan pasangan muda-mudi yang sedang jatuh cinta.

Sayangnya, tindakan yang dilakukan St. Valentine diketahui oleh pihak kekaisaran sehingga ia pun dijatuhi hukuman mati. Namun, sebelum dieksekusi, St. Valentine lebih dulu ditahan di dalam penjara.

Mendekam di penjara tidak menjadi penghalang bagi St. Valentine untuk membantu sesama. Sebab, di sana St. Valentine sempat berusaha menyembuhkan anak gadis kepala sipir penjara yang mengalami kebutaan.

Setelah anak gadis tersebut sembuh, kepala sipir penjara itu berniat untuk membalas jasa St. Valentine dengan cara menyelundupkan sebuah surat.

St. Valentine menulis sebuah surat yang berisi pesan bahwa ia telah jatuh cinta kepada anak gadis yang ia sembuhkan itu. Bahkan di dalam surat terakhirnya, St. Valentine menuliskan "From your Valentine" atau yang artinya "Dari Valentine-mu."

Baca juga: Polrestabes Surabaya Amankan 192 Pelaku Kejahatan Jalanan dalam Dua Bulan Operasi

Kisah romantis inilah yang kemudian menjadi asal-usul nama Valentine. Sementara itu, alasan Hari Valentine dirayakan setiap tanggal 14 Februari karena St. Valentine tutup usia pada 14 Februari 269 M.

- Perayaan Valentine Pertama

Ekspresi cinta yang ditunjukkan St. Valentine melalui surat yang ia tulis pun memotivasi orang lain untuk melakukan hal sama.

Pada abad ke-15, banyak orang mulai menulis surat cinta atau puisi untuk orang-orang tersayang mereka. Hingga pada abad ke-17, muncul sebuah tradisi yang dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat di dunia untuk merayakan Valentine.

Perasaan cinta mereka ditunjukkan melalui sebuah tulisan kartu ucapan, surat cinta, hingga memberikan hadiah. Saat ini, cara merayakan Valentine sudah sangat beragam.

Ada yang merayakannya dengan cara quality time bersama pasangan, makan malam romantis, memberi hadiah bunga atau cokelat, hingga menjadi kesempatan untuk melamar pasangan.

Baca juga: Kejari Surabaya Tangkap Ibu-Anak Buron Korupsi Rp4,75 Miliar, Buron Empat Tahun

- Perbedaan Valentine Dulu dan Kini

Perbedaan perayaan Valentine zaman dulu hingga kini sangatlah jauh. Pada zaman Romawi kuno, 14 Februari merupakan hari kasih sayang yang mewajibkan semua orang untuk memperingati dan juga meliburkan berbagai kegiatan.

Beberapa sejarawan menelusuri, pada masa itu orang-orang memperingati tanggal 14 Februari sebagai hari libur guna menghormati Juno yang merupakan Ratu dewa-dewi Romawi.

Perbedaan lainnya adalah, pada zaman dahulu perayaan dimulai pada tanggal 15 Februari, tidak sama dengan saat ini yang merayakan hari kasih sayang itu ketika tanggal 14 saja.

Pada tanggal 15 Februari sering kali diadakan sebuah perayaan bernama Festival Lupercalia yang umumnya disebut sebagai festival kesuburan. Kegiatan dalam festival ini dilakukan dengan cara memasukkan nama berbagai wanita ke dalam sebuah kotak.

Kemudian seorang pria jomblo akan mengambil sebuah nama secara acak, yang nantinya akan dijodohkan atau dipasangkan. Namun seiring perkembangan zaman budaya ini mulai berubah dan tradisi ini diganti hanya dengan mengungkapkan kasih sayang ketika hari Valentine tiba.

Editor : Aris S



Berita Terkait