Arief Poyuono / Foto dok
Mili.id - Arief Poyuono yang menyebut Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tidak bakal jadi presiden karena bukan dari suku Jawa, disesalkan Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Jakarta, M. Jamiluddin Ritonga.
Menurutnya pernyataan Poyuono mengarah pada etnosentrisme. "Sikap etnosentrisme tersebut tentu membahayakan perkembangan demokrasi di Indonesia. Sebab, sikap etnosentrisme itu pada umumnya berkembang di negara totaliter," ujar Jamiluddin Ritonga di Jakarta, Senin (6/12).
Baca juga: Tak Lagi Diwakili Menteri, Prabowo Paparkan Sendiri RAPBN 2027 di DPR
Dirinya menyampaikan bahwa hal itu sudah dipraktekkan Adolf Hitler saat memimpin Jerman. Hitler melalui NAZI terus menerus mengagungkan rakyat Jerman sebagai bagian dari Ras Arya.
"NAZI menilai Ras Arya ras paling unggul, karena itu paling berhak memimpin dunia. Ras lain hanya pecundang, karenanya syah untuk dipimpin dan dikuasai," terang Jamiluddin.
Jamil begitu sapaan akrab Jamiluddin Ritonga, sikap Poyuono tentu sangat tidak cocok di negara demokrasi. Sebab, mereka akan terus berupaya mendominasi dengan tidak memberi ruang bagi suku lain untuk memimpin.
"Indonesia yang dihuni multi etnis, tentu sikap etnosentrisme dapat mengganggu NKRI. Suku lain akan merasa tertutup untuk menjadi presiden. Hal itu dapat membuat frustasi suku lain," paparnya.
Penulis buku Perang Bush Memburu Osama ini menerangkan, selain itu, Arief Poyuono juga terlalu menggenalisir orang Jawa. Semua orang Jawa seolah sudah pasti akan memilih sukunya.
"Generalisasi seperti itu tentu sangat menyesatkan. Sebab, kalau pola pikir itu yang digunakan, maka semua orang Jawa seolah tipe pemilih emosional," sebut Jamil.
Padahal,lanjut Jamil, realitas politiknya banyak orang Jawa yang termasuk pemilih rasional. Pemilih seperti ini memilih capres bukan karena satu suku atau satu agama, tapi lebih karena dinilainya paling layak dibandingkan capres lainnya.
Baca juga: Ingin Tembus Piala Dunia, Presiden Prabowo Resmikan 17 Stadion di Indonesia
"Pada umumnya, semakin terdidik pemilih akan semakin rasional dalam memilih capres," beber Jamil
Karenanya, Jamil meminta penyataan sebagaimana yang diungkapkap Poyuono tidak perlu terjadi lagi, utamanya bagi orang terdidik. "Jadi, sinyalemen Arief Poyuono orang Jawa akan memilih dari sukunya tampaknya akan terbantahkan pada Pilpres 2024. Kecenderungan ini akan terlihat pada pemilih yang terdidik dan masuk tipe pemilih rasional," pungkasnya.
Editor : Redaksi
