Wow! Peneliti Unair Temukan Formula Pembuatan Kornea Mata Artifisial

Wow! Peneliti Unair Temukan Formula Pembuatan Kornea Mata Artifisial © mili.id

Peneliti Unair Temukan Formula Pembuatan Kornea Mata Artifisial (Foto: Unair)

Surabaya - Peneliti dari Universitas Airlangga (Unair), Dr Prihartini Widiyanti menemukan sebuah formula komposit kolagen, kitosan, dan natrium hialuronat dalam pembuatan kornea mata artifisial.

Invensi itu terdaftar sebagai hak paten dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pada Oktober 2022 lalu.

Baca juga: Four Points by Sheraton Surabaya Gelar Trading Card Show Pertama di Surabaya

Tentang Invensi, dosen yang kerap disapa Yanti itu mengatakan, angka prevalensi kebutaan akibat cedera kornea masih terbilang tinggi di Indonesia.

Permasalahan ini kemudian memantik dirinya untuk meneliti dan mengembangkan kornea artifisial dengan formula khusus, yaitu kolagen, kitosan, dan natrium hialuronat.

Peneliti Unair, Dr Prihartini WidiyantiPeneliti Unair, Dr Prihartini Widiyanti

"Jadi saya meneliti dan mengembangkan membran kornea buatan yang tujuannya adalah untuk memperbaiki dan mengatasi ulkus (luka) pada kornea penyebab hilangnya penglihatan," terang Prihartini, Rabu (5/7/2023).

Penelitian tentang formula khusus untuk kornea artifisial itu dijalankannya sejak Tahun 2015. Berbagai tahapan penelitian telah berlalu, termasuk uji coba in vivo dan implantasi pada hewan percobaan.

"Penelitian ini mulainya pada tahun 2015 dan Alhamdulillah sudah melalui tahapan in vivo. Artinya sudah kami coba implantasikan ke hewan percobaan," jelas dia.

Dalam mengembangkan invensinya, peneliti senior Institute of Tropical Disease (ITD) Unair itu berkolaborasi dengan mahasiswa berbagai jenjang, dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), hingga dokter spesialis mata.

Baca juga: Suroboyo 10K 2026 Dibanjiri Ribuan Pelari, Hotel dan Kuliner Surabaya Ikut Terdongkrak

"Untuk pengembangan kornea buatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa S1 saja, tetapi juga mahasiswa S2, S3, Teknik Biomedik, dan MIPA FST UNAIR. Lalu juga bekerja sama dengan teman-teman di RSUA Divisi Mata," ujarnya.

Lebih lanjut, Yanti mengatakan bahwa kolaborasi tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan invensinya ini. Sebab perlu adanya kolaborasi multidisiplin ilmu untuk menjalankan keseluruhan tahapan pengembangan, mulai dari penelitian tahap awal hingga uji coba implan pada manusia.

"Tentu perlu kerja sama, ya. Jadi, yang membuat dan mengembangkan adalah mahasiswa dari FST bersama dengan teman-teman dari ITD. Kemudian, nanti yang melakukan implan adalah dokter PPDS dan dokter mata," papar dia.

Dia berharap invensinya ini dapat segera terdistribusi dan terhilirisasi sehingga bisa menjangkau masyarakat luas.

Juga agar para peneliti mendapat dukungan dan keberpihakan dari pemerintah, universitas, maupun rekan-rekan sejawat.

Baca juga: Remaja Surabaya Tewas Diduga Dikeroyok Usai Perselisihan Sandal Crocs Rp1,5 Juta

Menurutnya, dukungan itu sangat membantu meningkatkan semangat untuk terus berkontribusi dan membawa karya anak bangsa bersaing di kancah internasional.

"Tentu saja ini juga menjadi perjuangan tersendiri, ya. Perjuangan untuk meyakinkan teman-teman medis untuk terus berpihak pada hasil karya anak bangsa, sehingga nantinya juga bisa meningkatkan daya saing kita di kancah dunia," pungkasnya.

 

Reporter: Rachmad FT 

Editor : Narendra Bakrie



Berita Terkait